BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Produser Film
Bukan Dia Lagi-Dia Lagi, Tapi Kenapa Nggak Dia?

Kalau melihat track record Reza Rahadian, dia selalu bisa membawakan peran yang diminta padanya, termasuk nanti jadi Benyamin S. Bahkan ada olok-olok kan, Reza main jadi pohon tetap bagus (aktingnya). 

Jadi kalau ada anggapan Reza lagi-Reza lagi karena kita tak punya banyak pilihan aktor yang bisa bertransformasi sebaik Reza. Misalnya saya ingin memfilmkan pahlawan sepakbola asal Makassar Ramang, aktor pertama yang ada di kepala saya (untuk memerankannya) pasti Reza. Karena ia pasti mainnya benar, walau secara fisik tidak mirip. Tapi kami sebagai produser merasa aman dan nyaman dengan performance yang bakal dia kasih.

Reza tak sekadar berakting. Dia telah berproses "menjadi". Aktor yang lebih baik levelnya sudah pada tahap "menjadi." Misal, kita tahu Habibie aslinya (berpostur) pendek. Tapi di film Habibe Ainun (2012) Reza is Habibie. Secara fisik tak mirip, tapi secara gerak-gerik dan emosional kita diyakinkan bahwa Reza itu Habibie. 

Reza telah berada di posisi peran-peran yang menantang dirinya. Itu bisa diartikan mengubah rasa underestimate orang menjadi percaya bahwa ia bisa jadi apapun, bahkan pohon atau batu sekalipun. 

Anggapan Reza lagi-Reza lagi karena kehadirannya di film selalu dibicarakan. Itu bagian juga dari kepandaiannya memilih peran. Dia takkan main di film yang menurutnya ia takkan stunning (menonjol, paling menarik perhatian--red) di situ. Bahkan di film My Stupid Boss yang ringan pun ia bisa stunning. Baik lagi, kita tidak punya banyak pilihan aktor seperti dia. Jadi, jika saya punya film berbujet di atas Rp5 miliar, memakai aktor semahal Reza worth it.

Karena 90 persen film di-drive oleh akting. Akting pemain-pemain film di depan layar yang bikin orang believe dengan ceritanya. Investasi terbesar film selain di skenario ada di aktor. kalau Reza dihargai tinggi memang worth it banget. Sebagai aktor ia profesional dan menunjukkan integritasnya yang tinggi sebagai aktor.

Di aktor perempuan atau aktris pilihannya lebih banyak, sebenarnya. Hanya saja di karakter-karakter untuk dimainkan mereka di perfilman kita kurang bervariasi. Karakter yang kuat dan susah (dimainkan) masih jarang. 

Kalu soal kenapa di sisi aktor perempuan belum ada yang selevel Christine Hakim, misalnya, faktor penyebab lainnya juga banyak. Kita tahu perempuan punya khittah-nya sendiri. Misal kalau dia menikah, dia menjadi ibu rumah tangga. Mungkin buat sebagian aktris yang sudah
menikah, karier bukan tujuan utama lagi. Itu mungkin yang menyebabkan
kita tak punya banyak pilihan juga mencari aktris yang setara dengan
Reza. 

Saya menilai Reza itu stabil. Ada beberapa nama yang sering muncul lalu  menghilang, atau punya pekerjaan sambilan lain. Reza nggak. Dia total di akting. Kita hanya melihatnya satu dua kali di iklan, mostly kita melihatnya sebagai aktor. Karena fokus dan stabil itu orang selalu melihat hasil kerjanya. Buat saya pertanyannya bukan, "Kenapa dia lagi-dia lagi?" tapi "Kenapa nggak dia?" (ade)     

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila