BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Transport Associate at Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia,Content Contributor @transportforjakarta  
Budaya Antri Kita Mulai Membaik

MRT Jakarta akan menggunakan teknologi Communications-Based Train
Control
(CBTC), sebuah persinyalan dan sistem safety pengontrolan kereta. Sistem ini memaksimalkan kerapatan kedatangan kereta nantinya. Secara tidak langsung, keuntungannya bisa mempersingkat waktu tunggu dan juga bisa meminimalkan lamanya gangguan yang terjadi pada kereta di perlintasan karena sistem ini bisa diketahui secara akurat di mana posisi kereta. 

Jika dibandingkan dengan transportasi publik yang ada sekarang jelas berbeda dengan MRT, contohnya Kereta Rel Listrik (KRL). Pergerakan sistem lokasi KRL sejauh ini hanya diketahui berada di antara stasiun apa dan ke stasiun apa.

Maximum headway yang ditawarkan MRT tentu akan menguntungkan penumpang. Jadi nantinya maksimal seseorang menunggu kereta yang akan datang setidaknya tidak lebih dari lima menit. Menurut saya memang seharusnya suatu kereta perkotaan memiliki headway lima menit. Kereta di Singapura bisa 2-3 menit. Jadi sistem waktu yang ditawarkan MRT kalau memang konsisten 5 menit sangat bagus dibandingkan dengan Malaysia. Headway MRT malaysia pada umumnya 7-9 menit. Tentu yang menjadi perhatian saya semoga ini bisa konsisten.

Budaya desak-desakan tidak bisa dilabelkan berdasarkan negara yang ada. Itu semua tergantung keadaan. Di Jepang yang diagungkan soal ketepatan waktu, kenyataannya juga berdesak-desakan kok saat jam sibuk. Menurut saya, setidaknya kita sudah bisa menjadi saksi revolusi budaya bertransportasi publik yang telah dicontohkan KRL Jabodetabek. Saat ini budaya antri kita mulai membaik karena tidak terlalu berdesak-desakkan. Walaupun kita belum sesempurna apa yang kita lihat di Singapura, setidaknya perubahan budaya menjadi lebih baik itu bukanlah hal yang tak mungkin.

Sekali lagi MRT bukanlah hal yang baru. Kebaruannya hanyalah transportasi publik ini di bawah tanah. Saya yakin masyarakat Indonesia bisa menyesuaikan budayanya, terbukti dari masyarakat kita yang secara perlahan sudah bisa menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi pada KRL Jabodetabek. 

Di KRL tak semua gerbong ada pengawasan. Berdasarkan analisis pantauan
kita, di Tansjakarta contohnya koridor 1 saat jam sibuk sore hari, sebagian besar masyarakat juga mulai tertib mengantri untuk masuk halte.

Persoalan transportasi kenyataannya banyak. Tanda tanya besar saya adalah bagaimana masyarakat termasuk pemerintah konsisten menghargai orang-orang yang bertransportasi publik? Saya ambil contohnya adalah jalur Transjakarta. Budaya melanggar jalur khusus bus termasuk budaya tak menghargai orang yang bertransportasi publik. Begitu juga budaya yang menurut saya masih setengah-setengah dilaksanakan oleh pemerintah dalam memberi hukuman kepada pelanggar yang masuk jalur khusus bus Transjakarta.

Berkaitan dengan pengguna transportasi publik menurut saya sudah menuju ke hal yang positif. Transportasi publik yang manusiawi kini mulai ada di Indonesia semenjak revolusi dari PT KCI dan diikuti dengan pembaharuan bus Transjakarta.

Harapan saya semoga MRT menjadi bagian dari keluarga perusahaan transportasi publik di ibukota yang berkedudukan sama dengan perusahaan transportasi publik terdahulu. Saya berharap MRT tetap menjaga nilai positifnya dalam mengkampanyekan indahnya bertransportasi publik. Less gimmick, but wider influence. (win)
 

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF