BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Assistant Manager Erasmus Huis/ Kedutaan Besar Belanda, Pengguna Ojek Online
Buang-Buang Waktu Melakukan Pembatalan Order

Ketika menjadi female driver (ojek online), itu profesi yang dia pilih dan harus siap dengan konsekuensi mendapat penumpang perempuan atau laki-laki. Saya melihatnya tidak ada masalah, ketika seorang female driver sudah melalui proses rekrutmen atau pembekalan dari perusahaan mitranya: Gojek, Grab atau Uber. Selama proses training itu, dia kan sudah mendapat pengetahuan berkendara yang benar.

Saya beberapa kali mendapatkan female driver baik dari aplikasi Gojek dan Grab. Berangkat dari rumah di Pulomas ke kantor di daerah jalan Rasuna Said. Demikian juga pulangnya dari kantor ke rumah. Tidak ada masalah buat saya female driver.

Nggak ada persoalan tega atau nggak tega, karena itu profesi yang menjadi pilihannya. Saya mengesampingkan itu, tetap gunakan jasa female driver. Banyak profesi yang ditekuni perempuan kok, salah satunya ojek online. Female driver cenderung lebih bersih penampilannya, berseragam lengkap, lebih tertib, selalu memilih jalur kiri dan mentaati lalu lintas.

Saya berpikir positif saja, tidak mau terbawa stereotipe "The Power of Female". Kesalahan sedikit dan digeneralisir pada semua perempuan, itu nggak benar. Justru buat saya lebih cepat ke kantor-- kalau mendapat driver yang seperti itu, pasti mendapat kemudahan di jalan, kendaraan lain menyingkir. Tapi ojek online kan gak kelihatan lelaki atau perempuan, karena gunakan helm dan seragam.

Selama ini female driver baik-baik saja, mungkin karena ada image diluar itu yang berimbas pada mereka. Pramudi Transjakarta juga banyak perempuan tapi tidak ada yang protes. Buat saya, asal mereka berkendara yang baik dan membawa saya dengan selamat sampai tujuan.

Daripada melakukan pembatalan order atau cancel akan buang-buang waktu, bisa-bisa terlambat masuk ke kantor. Seharusnya kita bisa menolong orang lain, bukannya justru menyusahkan orang lain dengan melakukan pembatalan order. Jangan dibuat repot, lihat sisi baiknya saja. Ketika mendapat female driver ya saya tanya, tahu jalan atau nggak, kalau tidak ya saya arahkan. Sebagai penumpang, kita harus menghormati female driver. (fai)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan