BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia
Bonus atau Bencana Demografi?

Dalam beberapa tahun terakhir kita sering mendengar bonus demografi, yaitu kondisi berlimpahnya angkatan kerja produktif sehingga mereka yang menanggung lebih banyak daripada yang ditanggung. Dengan berlimpahnya angkatan kerja produktif kita bisa memacu output sekaligus meningkatkan kesejahteraan, mengurangi kemiskinan. Itu sebabnya kondisi ini sebagai bonus. 

Meskipun begitu, harapan tersebut bisa saja tidak terjadi. Berlimpahnya angkatan kerja produktif justru diikuti oleh semakin membludaknya mereka yang harus ditanggung. Angkatan kerja produktif justru tidak meningkatkan output melainkan menjadi beban perekonomian. Bagaimana kondisi seperti ini bisa terjadi? Kondisi ini bisa terjadi bila perekonomian tidak tumbuh secepat pertumbuhan angkatan kerja produktif.

Sederhananya, bila setiap tahun pertumbuhan ekonomi hanya bisa menciptakan 100 ribu lapangan kerja sementara angkatan kerja bertambah 200 ribu orang, maka setiap tahun terjadi pengangguran baru sebanyak 100 ribu orang. Dalam 10 tahun akan terakumulasi 1 juta pemuda produktif yang pengangguran. Bila Soekarno pernah mengatakan beri aku 10 pemuda yang bersemangat aku akan mengguncangkan dunia, maka kita juga bisa berkata beri aku sejuta pemuda pengangguran aku akan bawa Indonesia ke neraka. Bonus demografi berganti bencana demografi.

Bencana demografi tidak bisa diatasi hanya dengan satu gagasan dan konsep besar tentang strategi pemanfaatan berlimpahnya SDM usia produktif. Bukan itu solusinya. Bencana demografi hanya bisa dihindarkan bila mulai dari sekarang kita bisa memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sehingga pertumbuhan lapangan kerja lebih besar daripada pertumbuhan angkatan kerja. Untuk itu percayalah, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen sangatlah kurang. Kita butuh pertumbuhan ekonomi yang lebih besar. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Ruang Steril Sopir Bus AKAP Belum Diatur             Susi Cuma Orang Kecil             Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar