BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
Bonus Demografi Vs Bencana Demografi

Sebagai anak bangsa  Indonesia, kita pantas berbangga dan berbahagia karena kita memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Maka, selayaknya kita bersyukur kepada Allah, Indonesia dianugerahi banyak kekayaan di laut, darat dan udara. Dengan kekayaan alam melimpah itu, kita juga kaya akan jumlah SD, dimana jumlah penduduk  Indonesia masuk dalam urutan ke 4 dunia yang jumlahnya menurut suspas 2015  mencapai angka 255.182.144 jiwa. Secara normative, jumlah sumber daya alam dan sumber daya manusia, paling tidak berada pada posisi seimbang.

Kedua kekayaan itu, adalah modal berharga untuk membangun Indonesia yang besar dan berdaya. Apalagi kini, bangsa Indonesia yang karena upaya kerja keras dalam mengendalikan jumlah penduduk, hingga memperoleh bonus demografi, suatu kondisi struktur penduduk  didominasi oleh penduduk yang masih usia produktif. Jumlah usia produktif yang diperkirakan berjumlah sebesar 65 persen. Sungguh, ini jumlah usia produktif yang sangat potensial, spektakuler dan diperkirakan akan membawa dampak positif yang sangat besar terhadap perkembangan ekonomi Indonesia ke depan, apabila bangsa ini bisa memanfaatkan bonus demografi yang hanya terjadi sekali dalam sejarah perjalanan populasi atau penduduk.

Sebagai bonus yang sangat berharga, hingga  disebut sebagai window of opportunities dan bukan diperoleh dengan tiba-tiba, tetapi karena ada upaya serius atau sungguh-sungguh dalam mengendali pertumbuhan penduduk. Kita layak pula memberikan apresiasi kepada BKKBN yang sudah berhasil mengnedalikan jumlah penduduk di Indonesia. Oleh sebab itu,  sebenarnya perolehan bonus demografi ini adalah sebuah prestasi yang membuka kesempatan atau peluang bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar, menjadi bangsa yang secara ekonomi berada pada peringat ke 7 dunia pada tahun 2030 nanti.

Idealnya bonus demografi adalah modal besar, karena tingginya jumlah penduduk usia produktif yang merupakan angkatan kerja yang akan bisa membangun dan membangkitkan geliat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akhirnya meningkatkan kualitas bangsa serta mengantarkan Indonesia pada peringkat 7 kekuatan ekonomi dunia. Namun, harus diingat bahwa kendatipun ini adalah bonus dan the window of opportunity bagi bangsa Indonesia, apabila bangsa Indonesia tidak siap, tidak cerdas   memanfaatkan bonus ini dengan segala kesiapan, maka bonus itu tidak akan berarti apa-apa. Tidak akan menjadi berkah yang mampu mengubah bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan berkelas. sebaliknya akan berbalik menjadi musibah. Sehingga bangsa Indonesia yang mendapat bonus demografi itu tidak ubahnya bagai buih di air. Banyak jumlahnya, tetapi tidak berdaya. Mengapa demikian?

Bonus itu, bukan hanya untuk dibanggakan, bukan pula hanya sebagai obat yang membuat bahgian. Karena kebanggaan dan kepuasan akan pupus, apabila momentum ini tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan yang optimal tersebut, sangat tergantung pada kualitas bangsa ini. Karena, kunci yang harus dimiliki lagi setelah Indonesia memperoleh bonus demografi ini adalah pada kemampuan atau kualitas bangsa Indonesia  yang andal untuk bisa memanfaatkan bonus itu sebagai the window of opportunities yang hanya akan diperoleh sekali dalam sejarah populasi.  Oleh sebab itu, bangsa dan pemerintah Indonesia harus benar-benar mampu memanfaatkan peluang besar ini dengan cara menyiapkan generasi bangsa ini menjadi generasi yang memiliki daya saing yang tinggi. Maka, ada sejumlah pertanyaan yang harus kita jawab bersama.

Pertama, bagaimana kita bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang tidak mendapat bonus demografi, tetapi memiliki kemampuan bersaing yang tinggi? Kedua, bagaimana kita mampu bersaing memanfaatkan bonus demografi tersebut apabila  index pembangunan manusia (IPM) Indonesia yang berada pada urutan ke 100 an dari 108 negara di dunia?  Bagaimana bisa mampu bersaing apabila  kemampuan literasi bangsa ini berada di peringkat ke-60 dari 61 negara? Ketiga, bagaimana pula mampu bersaing, sementara sekarang jumlah penganggur masih tinggi, yakni 5.13 persen? Ke empat, mau kemana kita bawa ketika dalam dunia kerja lebih didominasi oleh mereka yang berpendidikan rendah, hanya memiliki ijazah SD dan SMP? Masih banyak pertanyaan lain yang harus dipertanyakan dan direspon.

Hal ini semakin penting diantisipasi mengingat perkembangan generasi yang terhitung dalam kategori bonus demografi tersebut adalah mereka yang dikenal sebagai generasi milenial, generasi Z yang sering diklaim sebagai generasi manja, mudah bosan, instant, malas membaca, suka dengan zona aman, serta berbudaya membaca yang rendah, bahkan tengah digerogoti racun narkoba. Kalau seperti ini kualitas bonus demografi kita, maka apa yang bisa kita banggakan? Bukankah ini yang disebut bencana demografi? Idealnya, mereka  adalah generasi andal yang menguasai teknologi digital yang akan menjadi aktor dari revolusi industry 4.0. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Ruang Steril Sopir Bus AKAP Belum Diatur             Susi Cuma Orang Kecil             Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar