BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Boneka Cantik dari India

Simpan dulu keyakinan bahwa investor Jepang bisa dirayu agar bersemangat masuk ke Indonesia. Mereka adalah investor yang sangat berhati-hati, dan paham betul bahwa masalah ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia adalah akibat ulah sendiri.  

Mereka sekarang selalu waspada bahwa di Indonesia banyak jebakan yang bisa membuat mereka rugi besar. Rekam jejak sebagai investor dan kreditur terbesar tak lagi berarti. Mereka bisa disingkirkan begitu saja karena hadirnya sahabat baru pemerintah: China. 

Mereka sadar betul bahwa hubungan Indonesia-Jepang saat ini berada di tingkat terendah. Ulang tahun ke 60 hubungan diplomatik Indonesia-Jepang yang jatuh pada tahun ini seolah tak lagi memiliki arti penting. 

Kini mereka bersikap wait and see perekonomian Indonesia yang sedang gonjang-ganjing akibat defisit neraca pembayaran yang membuat nilai rupiah kian loyo. 

Mereka paham betul kenapa sampai sekarang pemerintah belum mengayunkan langkah konkrit untuk mengatasi hal tersebut meski cadangan devisa merosot cepat, sementara pelarian modal kian menjadi-jadi. Ada banyak kepentingan pribadi di kalangan elite politik, baik di pemerintahan maupun lembaga legislatif.

Melakukan kebijakan uang ketat dengan membekukan atau membatalkan sebagian proyek pembangunan infrastruktur nyaris tak mungkin. Ada banyak pebisnis besar di kabinet dan parpol besar, yang bisa rugi bila kebijakan tersebut dilaksanakan. 

Mungkin para investor dari negeri samurai itu merasa geli ketika para petinggi politik menuding faktor internasional sebagai biang kerok, dan membandingkan nilai rupiah dengan mata uang negara lain yang juga sedang loyo.

Mereka tahu semua itu cuma muslihat untuk meyakinkan rakyat bahwa seolah pemerintah tak membuat kesalahan. Seolah semua pembangunan direncanakan dengan baik, dan kebocoran bisa ditekan habis-habisan. 

Sesungguhnya apa yang terjadi sekarang sudah cukup lama digelisahkan oleh para investor, tak hanya yang dari Jepang tapi juga dari negara-negara maju lain. Kegelisahan mereka bersumber dari kenyataan bahwa pemerintah giat berburu utang berbunga tinggi, sementara pembangunan infrastruktur dijalankan dengan melanggar prisip kehati-hatian, dan dilandasi semangat pokoknya membangun.

Mereka tidak buta untuk menyaksikan pembangungan infrastruktur yang dilakukan tanpa tender meski menghabiskan triliunan rupiah uang rakyat. Di antaranya adalah jalan tol Becakayu dan LRT. 

Proyek-proyek ini diserahkan begitu saja ke BUMN-BUMN, seolah perusahaan-perusahaan plat merah ini bersih dan paling jagoan meski kecelakaan kerja kerap terjadi dan berulang kali terlibat korupsi. 

Mereka juga geli menyaksikan impor pangan secara besar-besaran meski stok masih mencukupi. Apalagi sebelumnya disertai janji bahwa Indonesia tak akan impor pangan! 

Industri keuangan kini juga ekstra-waspada membiayai proyek besar di Indonesia, terutama yang berhubungan dengan pemerintah karena bisa dibatalkan mendasak. Contohnya adalah pembangunan jalur kereta cepat Jakarta-Bandung,  terminal LNG terapung di blok Masela, dan kabel listrik bawah laut Jawa-Sumatra. 

Mereka mungkin juga kaget pada keputusan pemerintah menaikkan tarif impor untuk berbagai barang, yang menurut Menkeu Sri Mulyani tak akan mengganggu pembangunan. Pemerintah tampaknya tak sadar bahwa hal itu bisa mengundang pembalasan dari negara pengekspor seperti dilakukan China terhadap kenaikan bea impor baja oleh Amerika Serikat. 

Ringkas kata, Indonesia di mata para investor tersebut untuk sementara ini cukup ditonton saja, seperti lagu 'boneka cantik dari India, yang boleh dilihat tapi tak boleh dipegang'. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan