BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti PUSPOL Indonesia, Alumni S-2 Ketahanan Nasional UI, Wakil Sekretaris Jenderal Forun Serikat Guru Indonesia (FSGI)
Bimbel Online Keniscayaan Karena Sekolah Tak Beri Pelayanan

Tidak bisa dipungkiri, sekolah saat ini bukan lagi tempat pembelajaran yang bermakna. Kurikulum kita sangat padat. Di lain pihak, ukuran keberhasilan di sekolah dilihat dari angka-angka. Misalnya, untuk lulus ukurannya nilai/angka ujian nasional (UN). Begitu juga untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN).

Pertanyaannya, apa sekolah tak bisa memberi pelayanan hingga siswa harus mencari ilmu tambahan di bimbingan belajar (bimbel) baik online maupun yang tidak online? Seharusnya sekolah menyediakan layanan pembelajaran tersebut.

Namun, pendidikan kita sudah mengalami reduksi nilai. Dari sisi nilai, belajar berorientasi pada skor atau angka. Bukan pada value. Sekolah bukan lagi tempat untuk mentransfer nilai (value) hidup. Tetapi nilai skor. Itu nilai juga tetapi maknanya jauh beda. 

Maka, ketika lembaga bimbel muncul kita tak bisa menolak. Itu sudah keniscayaan. Dikatakan keniscayaan karena sistem pendidikan kita membentuk orientasi pemerintah, orangtua dam siswa kepada nilai skor/angka di saat yang sama sekolah tak mampu memberi kedua nilai itu, baik nilai yang sifatnya value maupun yang bentuknya skor.  

Terkait nilai skor yang belum bisa dipenuhi sekolah karena misalnya, rasionalitas jumlah murid di kelas yang tak memadai antara guru dan siswa; bagaimana bisa mengajar efektif bila jumlah siswa 30-35 per kelas?

Akhirnya pembelajaran di sekolah jadi tak bermakna, meaningless learning. Karena orientasinya nilai, yang dilakukan sekolah akhirnya drilling (pelatihan) memecahkan soal terus. Terutama bila jelang UN. 

Di situ kita kemudian bermasalah ketika dihadapkan pada persoalan problem solving atau berpikir kritis. Di sekolah, murid hanya dibiasakan menjawab soal. Bukan menjawab persoalan hidup. Targetnya hanya UN dan masuk PTN. 

Di saat bersamaan masyarakat tak puas dengan sekolah. Sementara negara "memaksa" orangtua dan murid mengejar nilai skor. Karena sekolah tak bisa menyediakan itu, lalu dijawab pasar. Ada celah untuk bimbel-bimbel lahir. Sekarang ada bimbel yang online karena kini sudah industri berbasis elektronik. 

Bimbel-bimbel ini ada tanpa pengawasan. Baik itu bimbel yang non-online maupun online. Kita pernah dengar ada kasus kebocoran soal UN di bimbel non-online. Itu terjadi karena pemerintah tak mengawasi mereka. Kita tak tahu mana bimbel yang nakal atau tidak. Apalagi sekarang ada bimbel online. Seharusnya pemerintah bergerak mengawasi. Misalnya dengan memberi akreditasi atau sejenis itu. (ade)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang