BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF
Bersaing dulu di ASEAN

Pasar ekspor Indonesia dinilai sangat fluktuatif pada beberapa tahun terakhir walaupun secara tren menunjukkan tren kenaikan dari tahun 2016. Secara tahunan dari 2016, ekspor Indonesia mengalami pertumbuhan secara year-on-year (yoy) yang signifikan hingga tahun 2018. Pada awal tahun 2016, pertumbuhan ekspor sempat menyentuh angka minus 21,53 persen atau terendah untuk tiga tahun terakhir. Namun keadaan tersebut berangsur pulih hingga tahun 2017-2018 dimana tertinggi pada Juli 2017 yang tumbuh sebesar 42,81 persen.

Selama tahun 2018, ekspor mencatatkan pertumbuhan yang positif dari bulan Januari hingga Juli 2018, dan relatif meningkat walaupun belum setinggi bulan Juli tahun lalu. 

Pada Juli 2018, ekspor Indonesia sebesar 16.242,7 juta dolar AS atau meningkat 19,33 persen dibandingkan Juli tahun lalu. Peningkatan ini lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspor bulan lalu (yoy). Namun kenaikan ini masih sangat tergantung dengan perubahan harga komoditas dunia seperti nikel, tembaga dan batubara bukan karena peningkatan pada daya saing sehingga meningkatkan industri dalam negeri.

Data menyebutkan bahwa ekspor Indonesia terhadap ekspor dunia masih berada di peringkat 29 dari total negara. Masih jauh jika dibandingkan dengan China (peringkat 1), AS (peringkat 2), bahkan dengan negara tetangga seperti Singapura (14), VietNam (20), Thailand (21), dan Malaysia (26). Peringkat yang masih rendah tersebut dipengaruhi oleh daya saing Indonesia yang masih di bawah negara-negara tersebut. Daya saing yang rendah akan menimbulkan produk yang tidak bisa bersaing secara kuantitas maupun kualitas dengan negara-negara tersebut. 

Selain itu, negara-negara dengan peringkat 10 besar terbesar porsi ekspornya tersebut merupakan negara dengan pengekspor produk berbasiskan teknologi dan mempunyai nilai tambah yang tinggi. Bandingkan dengan Indonesia yang masih saja mengandalkan komoditas mentah untuk diekspor seperti minyak, CPO, karet, dan batubara. Barang-barang produk olahan dan berteknologi tinggi belum menjadi andalan ekspor Indonesia.

Berdasarkan negara tujuan ekspor pun juga tidak pernah ada perubahan drastis. Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor utama hanya itu-itu saja seperti China, AS, Jepang, dan India. Barang yang diminta negara-negara itu merupakan barang-barang dengan nilai tambah rendah seperti China yang banyak mengimpor CPO dan minyak dari Indonesia, serta AS yang banyak mengimpor karet dan minyak dari Indonesia. Kebalikannya, impor dari negara-negara itu ke Indonesia merupakan produk olahan dengan nilai tambah tinggi. Jadi membuka pasar ke negara-negara non tradisional merupakan strategi utama untuk meningkatkan ekspor Indonesia.

Ada dua tantangan utama dari strategi membuka pasar ekspor baru. Pertama tentu persaingan dari negara lainnya. China merupakan salah satu negara yang sangat gencar membuka pasar internasional. Terlebih dengan adanya perang dagang AS yang mengharuskan adanya saluran baru barang produksi dari China agar tidak menumpuk di dalam negeri. Selain itu investasi yang gencar dilakukan China di negara berkembang membawa keharusan negara tersebut mengimpor produk-produk dari China sebagai bahan baku pembangunan seperti Jalan Tol, Jembatan, ataupun Gedung.

Kedua adalah, daya saing produk Indonesia yang masih kurang efisien. Barang-barang dari Indonesia relatif lebih mahal daripada barang-barang yang dihasilkan oleh negara lain terutama China.

Peningkatan daya saing industri merupakan strategi utama yang harus dilakukan pemerintah untuk bisa bersaing dengan negara lain, minimal harus bisa bersaing di ASEAN karena untuk bisa bersaing dengan China merupakan tugas yang berat walaupun pasti suatu saat bisa. Selain itu, strategi dengan mengandalkan perwakilan Indonesia di negara-negara dengan potensi sebagai pasar utama baru. Para duta besar Indonesia di negara-negara tersebut harus dimanfaatkan untuk bisa menjadi agen produk Indonesia untuk diekspor. Ada target ekspor yang dibebankan ke masing-masing perwakilan. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Niko Adrian

Advokat, Dosen Hukum Tata Negara FH-UKI

FOLLOW US

Demi Suharto Pemerintah dan Oposisi Bersatu             Petahana Demisioner vs Penantang Bulldozer             Dikhotomi Orde Baru dan Reformasi : Masih Relevankah?              Turn Back Orba             Percakapan Dari Orang ke Sistem             Orde Baru Politik Sesaat dan Tantangan Menuntaskan Reformasi             Pertarungan Idiologi             Bangkit Orde Para Bandit             Pendekatan Dialogue dalam Penyesuaian Konflik Papua Lebih Efektif, Ketimbang Operasi Militer             Dukungan Bagi Bank Syariah Harus Konsisten-Konsekwen