BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Berkualitas Rendah Dirusak Pula oleh Alumninya

Perguruan tinggi kini sudah menjadi komoditas politik. Pelakunya adalah para alumni yang bersyahwat besar di bidang politik. Perilaku mereka pun tak beda dengan bukan orang sekolahan.  Apalagi mereka juga melibatkan orang bayaran yang didandani seperti alumni universitas papan atas. 

Paling mencolok adalah pergelaran deklarasi dukungan kepada capres yang dilakukan oleh alumni berbagai perguruan tinggi papan atas Indonesia. Sebagaimana kaum fanatik pada umumnya,  para alumni tersebut memuji setinggi langit politisi junjungan masing-masing. Mereka membangun opini bahwa sang junjungan bagaikan raja Midas dalam mitologi Yunani. Demikian hebatnya raja ini sehingga apapun yang dia sentuh akan berubah menjadi menjadi emas. 

Mereka tentu saja menyimpan rapat-rapat semua keburukan  junjungan politik masing-masing agar tampak bagai juru selamat Indonesia. Sebagaimana kaum tak terdidik pada umumnya,  mereka juga gemar melecehkan pihak lawan dengan kata-kata kasar. Tampaknya mereka berpikir bahwa kekasaran seperti itu bisa lebih meyakinkan masyarakat bahwa diri mereka adalah intelektual sejati. 

Maka cukup satu kata saja untuk menggambarkan situasi perguruan tinggi Indonesia saat ini: Memilukan! Kehormatannya dikoyak oleh para alumninya sendiri yang keranjingan politik. Konyolnya lagi,  tak sedikit pula akademisi yang ikut menjadi aktor politik.
 Meski tak pernah mengaku sebagai politisi dan bergabung dengan Parpol, perilaku mereka tak kalah garang dari politisi sungguhan. Mereka tampak sangat bernafsu berburu harta dan tahta lewat jalur politik.

Bisa jadi,  semua itu terjadi karena demikian rendahnya kualitas perguruan tinggi, yang ditandai dengan ketidakmampuan meningkatkan produktifitas dan kualitas keilmuan. Lihat saja,  dalam jajaran universitas  terbaik di Asean pun perguruan tinggi kita berada di nomor buntut. Bahkan tak ada satu survei pun memasukkan perguruan tinggi dalam Top 50 universitas terbaik di Asia. 

Dalam Top 100 universitas terbaik di Asia berdasarkan survei Quacquarelli Symonds (QS) Asia University Rankings yang dirilis 24 Oktober lalu,  hanya  terdapat tiga perguruan tinggi dari Indonesia,  inipun di papan bawah. Ketiganya adalah ITB (57), universitas Gajah Mada (73), dan Universitas Indonesia (74).

Maka, bila dilihat dari ulah para alumni dalam deklarasi dukungan Capres, masyarakat tentu makin menyadari bahwa para sarjana produk perguruan tinggi nasional juga bisa menjadi tokoh seperti dalam legenda Rattenfänger von Hameln (Peniup Seruling Dari Hamelin). Legenda ini tentang peniup seruling ajaib yang musiknya bisa membawa semua tikus meninggalkan kota Hamelin di Jerman,  dan tak pernah kembali.
Lalu,  ketika dewan kota Hamelin tak mau membayar jasanya,  dia meninggalkan kota sambil meniup seruling ajaibnya.  Semua anak di kota Hamelin mengikutinya, dan tak satupun kembali. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF