BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru Besar Universitas Negeri Malang/Deputi II UKP Pancasila
Berketuhanan yang Progresif dan Substantif

Kerisauan Bung Karno tentang dimensi spiritualitas masyarakat Indonesia memaksa Beliau memeras otak untuk menelusuri setiap lapis sejarah bangsa Indonesia.

Dalam pidato Bung Karno 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI, disebutkan bahwa "bukan saja bangsa Indonesia berTuhan, tetapi masing masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri". Maka keputusan MK menjadi jawaban dari harapan Bung Karno 72 tahun yang lalu.

Diperlukan jiwa besar dan wawasan yang luas untuk memahami bahwa orang yang bertuhan di Indonesia sangat beragam. Pengakuan agama negara sempat dimaknai oleh sebagian kelompok tertentu bahwa mereka yang tidak menganut agama yang diakui negara adalah tidak bertuhan.

Pandangan ini secara historis dan sosiologis sulit diterima. Sebelum masuk agama-agama besar, masyarakat Nusantara sudah memiliki kesadaran religiusitas dan atau spiritualitas. Bahkan sampai kini beberapa komunitas tertentu masih mempraktikkan keyakinan tersebut. Sudah barang tentu keyakinan komunitas ini tidak selalu didukung oleh kitab suci dan sosok yang dipersonifikasikan sebagai nabi.

Sebagai masyarakat yang hidup secara kolektif dan tidak menonjolkan aspek indivualistik membawa konsekuensi munculnya keyakinan yang bersifat anonim. Keyakinan tersebut cenderung dimaknai sebagai warisan leluhur dan disampaikan secara lisan.

Dalam konteks yang semacam ini, pemahaman dari dimensi emig memungkinkan kita yang biasa hidup dengan keyakinan agama negara dapat memahami sekaligus menghormati bahwa saudara kita yang selama ini tidak beragama yang diakui negara juga punya hak meyakini dan menyembah Tuhannya.

Toleransi terhadap keberagaman keyakinan di masyarakat dapat mendewasakan kita semua dalam menjalankan dan mengamalkan ibadah yang kita yakini. "Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, Ketuhanan yang hormat menghormati satu sama lain" demikian kata Bung Karno.

Semoga keputusan MK makin mendorong masyarakat Indonesia berTuhan yang penuh welas asih. Mengamalkan keyakinan agama yang diyakini secara substansial, yaitu menjadi pribadi yang secara etis bertanggungjawab secara langsung kepada Tuhan untuk ikut menciptakan kehidupan yang lebih manusiawi serta menjaga alam semesta dengan segala isinya untuk kebaikan kehidupan. Bangsa yang berTuhan selalu mengejar kebajikan dan mengamalkan kebaikan. Mereka yang berTuhan menghindari dendam, amarah serta kebencian dan kekerasan. Tuhan adalah sumber kehidupan bukan pangkal untuk menabur kebencian dan peperangan. Mereka yang dekat dengan Tuhan selalu merasa damai karena memiliki hati yang tenang serta pikiran yang terang.

Dalam suasana kebatinan yang disinari oleh sifat sifat Ketuhanan yang berkebudayaan, bangsa Indonesia tidak hanya mengamalkan toleransi, tetapi juga membangun bangsa yang memiliki dimensi spiritualitas yang mencerahkan dan membebaskan dari kemiskinan dan kebodohan. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)