BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pakar sosiolinguistik, peneliti di Institute of Culture, Discourse, and Communication & dosen di School of Language and Culture, Auckland University of Technology, Selandia Baru.
Berbahasa Adalah Hak Asasi, Termasuk Bahasa Gado-gado

Sebagai seorang sosiolinguist saya tidak memandang persoalan bahasa secara hitam-putih. Sebab, terdapat banyak layer dan nuansa dalam praktek berbahasa. Dalam konteks berbahasa gado-gado, salah satunya tergantung pada definisi bilingualisme. Range-nya panjang, berada dalam sebuah kontinum, di mana ada yang hanya sedikit mampu berbicara bahasa kedua, sampai yang sangat lancar.

Dalam dunia linguistik, percampuran bahasa ini biasanya disebut sebagai code-switching. Saat ini teori soal code-switching telah sangat berkembang. Kemampuan berbahasa kini dipandang sebagai sebuah resources (atau sumber daya kekuatan).

Sebetulnya juga, fenomena bahasa gado-gado tidak hanya terbatas pada Bahasa Indonesia yang dicampur Bahasa Inggris. Berbicara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa juga bisa dianggap sebagai Bahasa gado-gado. Namun, Bahasa Inggris, untuk kebanyakan masyarakat Indonesia, posisinya tertandai (marked), karena kedudukannya sebagai bahasa asing.

Berbeda dengan beberapa bangsa lain, kita mendapatkan pengaruh Bahasa Inggris melalui popular culture (budaya pop) sejak tahun 1950-an dari Amerika Serikat. Saat itu lagu-lagu Barat dan film Hollywood banyak beredar. Artinya, kita tidak mendapat pengaruh bahasa Inggris lewat kolonialisme.

Selain itu, beberapa orang Indonesia yang dikirim ke Amerika untuk belajar, saat pulang, mereka biasanya dan kebanyakan menjadi pejabat atau menempati posisi strategis di pemerintahan. Dari sana, kemudian muncul anggapan bahwa orang yang bisa berbahasa Inggris dianggap sangat dekat dengan kekuasaan dan kesuksesan. Kemahiran berbahasa Inggris dipandang bisa menaikan status sosial dan ekonomi seseorang.

Pada gilirannya, ketika kemampuan berbahasa Inggris dekat dengan kekuasaan dan melambangkan status sosial dan ekonomi yang (lebih) tinggi, akhirnya menciptakan gap di kalangan masyarakat. Dari sanalah muncul anggapan mereka yang berbahasa Inggris saat menggunakannya di waktu dan kesempatan yang kurang tepat dianggap ingin pamer. Padahal pamer atau tidak adalah sebuah hal yang harus kita kaji lebih jauh. Kita harus meriset hal ini. 

Selain itu, hal lain yang yang menciptakan gap antara mereka yang bisa berbahasa Inggris dengan yang tidak, bisa kita lihat juga pada iklan lowongan kerja yang banyak mengutamakan kemampuan berbahasa Inggris. Sebenarnya hal itu adalah sebuah bentuk diskriminasi, karena memarjinalkan orang yang tdak punya kemampuan berbahasa Inggris.

Sementara itu, dilihat dari lensa politik, banyak orang melakukan politik identitas terhadapa penggunaan bahasa. Artinya, saat orang Indonesia menggunakan Bahasa Inggris di dalam kehidupan sehari-hari misalnya,  KeIndonesiannya dianggap berkurang. Ini terjadi karena Bahasa Indonesia memang dibangun atau dikonstruksi pada awalnya sebagai bahasa pemersatu sejak masa kolonialisme.

Menyangkut kebiasaan berbahasa gado-gado antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang tak berbanding dengan kecakapan berbahasa Inggris, hal ini terkait dengan banyak hal. Ada banyak variabel yang bisa menjadi penyebab. Kita tidak bisa membandingkan langsung dengan negara lain, seperti Malaysia atau Singapura. Mereka mendapat pengaruh Bahasa Inggris melalui kolonialisme di mana Singapura dan Malaysia sama-sama pernah dijajah oleh negara Inggris. Dalam ilmu World-Englishes oleh Kachru, mereka termasuk ke dalam Outer Circle, sedangkan Indonesia berada di dalam Expanding Circle di mana seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kita tidak mendapatkan pengaruh Bahasa Inggris melalui penjajahan, sehingga dari segi sejarah, hal ini tidak sebanding atau tidak apple to apple.

Selain itu, tentu saja, persoalan pengajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah umum kita bisa menjadi faktor yang mempengaruhi kurangnya kemampuan banyak siswa kita berbahasa Inggris. Misalnya, kondisi di banyak sekolah saat ini, jumlah siswa per kelas yang bisa mencapai 40-50 orang. Ini besar sekali dan tidak memungkinkan guru untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk berlatih percakapan, misalnya. Juga, fokus pengajaran yang banyak menekankan unsur Tata Bahasa atau grammar daripada kemampuan berbicara dan produksi siswa. Jika jumlah siswa terlalu banyak, sulit mengajar Bahasa Inggris dengan komunikatif, padahal dalam pengajaran bahasa apapun, siswa seharusnya diberi kesempatan untuk praktik dan memproduksi, misalnya berbicara dan menulis.

Akhirnya, sebagai seorang sosiolinguist, saya memandang bahasa sebagai sebuah hak asasi. Saya percaya setiap individu mempunyai hak berbahasa dan memilih Bahasa yang ia inginkan. Dalam konteks bangsa Indonesia memang menjadi kompleks, karena pilihan kita memang dibatasi oleh wacana bernegara. Negara kita mengikat kebangsaan dengan berbahasa di mana ada anggapan “Jika kamu orang Indonesia, maka wajib menggunakan Bahasa Indonesia.” Akibatnya, jika seseorang melibatkan Bahasa Inggris dalam tuturan sehari-harinya, keIndonesiaannya dianggap kurang. Padahal bisa saja berbahasa gado-gado merupakan resources atau sumber daya dan tidak melulu sebagai sebuah penghambat. (ade)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Kegalauan Anies, Lahirkan Kebijakan Itu             Bukan Sekadar Buat Aturan, Tapi Bangkitkan Rasa Kepedulian              Tidak Ada Alasan Mengabaikan Putusan MK             Keputusan KPU Mengembalikan DPD Khittahnya             Awasi Distribus Beras dengan Benar!             Koordinasi dan Komunikasi Menko Perekonomian Buruk              Bersaing dulu di ASEAN             Harus Ada Transformasi Struktural Industri              Tingkatkan Daya Saing Produk Kita             Perlindungan Anak Harus Libatkan Pengurus RT dan RW