BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Belajar untuk Hidup dengan Kompetisi yang Berbasis Meritokrasi

Anggaran memang bisa jadi "alasan" ketiadaan inovasi. Tapi sebetulnya yang paling penting itu jiwa dan semangat ingin perubahan yang justru secara "agamis" sudah diperintahkan oleh surat Ar Rad  yang sering dikutip Bung Karno: “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu bangsa, jika bangsa itu sendiri tidak bekehendak kuat untuk memperbaiki nasibnya”.  Justru karena kita mengalami "kolonialisme dan imperialisme", maka tercipta suatu kondisi dimana konfrontasi tertakdirkan untuk terjadi antara “yang terjajah” dan penjajah hanya bisa diselesaikan dengan perang pembebasan.

Namun setelah itu terbukti bahwa dalam tubuh sesama bangsa, bisa terjadi konflik dan kompetisi. Nah, negara berkembang seperti Indonesia terjebak pada dikotomi  “lu lu gue gue” antara pemerintah dan oposisi secara ambivalen dan ekstrem. Kita tidak terbiasa mengolah konflik melalui mekanisme penyelesaian konflik secara damai. Kemudian terjeblos pada neo feodalisme baru, dimana elite sesama bangsa malah bertindak lebih kolonial dari kolonialisme terhadap sumber daya manusia sesama bangsa, yang dianggap bisa menjadi saingan politik.

Untuk menempatkan riset sebagai diskursus utama pertumbuhan, kita harus belajar untuk hidup dengan kompetisi yang berbasis meritokratis, dimana inovasi dan invensi dihargai secara terhormat dan sportif, ksatria. Perebutan kinerja yang terbaik dan terbagus secara fair. Hanya dengan itu putra-putri terbaik dan inventor terbaik bisa berkinerja secara nasional maupun internasional.

Kita ketinggalan regulasi insentif untuk venture capital atau alokasi dana riset dengan pendekatan kebijakan tax deductible, untuk merangsang riset jangka panjang strategik yang memerlukan "masa inkubasi panjang" sebelum hasil riset itu bisa viable secara ekonomis.

Agar berorientasi pada riset yang dibutuhkan masyarakat, tentu saja pendekatannya harus fungsional dan meritokratis. Tidak mungkin penghargaan terhadap hasil riset hanya berdasarkan ketentuan birokrasi yang sekadar memenuhi target mengumpulkan "kredit akademis atau jenjang birokrasi", padahal riset yang dilakukan tidak relevan, tidak produktif, dan tidak kreatif. Sekadar mememuhi kriteria bikin skripsi, apa itu sekedar S1, lalu Master yang penuh jiplakan dan akhirnya PhD yang juga sekadar pesanan prestise  yang samasekali tidak orisinal, kreatif, dan inovafif.

Kata kunci dari inovasi dan invensi adalah kreativitas, produktivitas, dan terobosan. Kebekuan status quo menghambat perubahan dan program pencerdasan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui persaingan yang sehat, bergairah, dan menjadi stimulan untuk kinerja seluruh bangsa secara totalitas. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF