BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru Besar Antropologi UI, mantan Ketua Umum Partai Demokrat
Banyak Kader Terbaik Parpol yang Kabur

Ini risiko partai politik (parpol) yang menganut sistem tertutup. Artinya setiap parpol mendaftar anggotanya sebagai card carrying member. Akibatnya simpatisan dan pendukung yang tidak memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) dianggap outsider. Namanya orang merdeka, dia mau berideologi sesuai dengan keinginan batinnya, dan tidak mau menggadaikan kemerdekaan.

Mereka yang menjadi anggota dan ber-KTA memang adalah orang-orang yang sudah kontrak berjuang untuk partai dengan segala akibatnya. Bagi yang sudah mapan karena kontrak itu, ia berusaha mempertahankan posisinya at any cost. Karena hidup matinya sudah dikontrak, dia cenderung menyusun kekuatan bertahan bagi dirinya, kalau perlu biayai partai dengan pamrih pribadi dan keluarga. Akibatnya kader muda yang penuh idealisme dan mengandalkan kemampuan berpolitik semata dan pengaruh massanya besar, belum tentu cocok bagi partai yang "eksklusif".

Walaupun pada awalnya diterima atau difungsikan sebagai vote getter, ketika berhasil dan dimintai bantuan finansial mereka segan. Karena hal tersebut berlawanan dengan idealisme menggalang massa. Sebaliknya anggota yang tekadnya memanfaatkan organisasi atau partai, dia tidak segan-segan mengeluarkan dana demi terpenuhinya ambisi politik pribadi. Makin besar sumbangan dan kedekatan dengan "pemilik" partai, makin besar juga keleluasaan untuk bersaing dalam pilkada walaupun kemampuan pemikirannya rendah. Jadi terkesan parpol memperhatikan kader berdasarkan kedekatan relasi dan kemampuan finansial.

Perlu diingat, banyak kader card carrying member yang berlatar belakang pengangguran dan mencari penghasilan dari berpartai. Buktinya belakangan marak korupsi dengan perlambangan partai. Seolah-olah parpol menjadi tempat penampungan pengangguran dan "pengusaha" yang cari proyek atau bikin proposal. Kalau bernasib baik, diangkat sebagai pejabat atau minimal jadi "asisten". Kalau sudah berhasil mendapat jabatan, selanjutnya menjadi "sasaran" proposal. Kalau jiwanya idealis, pejabat tersebut akan lari.

Jadi kader yang baik akan lari dari parpol, dan parpol terpaksa mencari kader dari luar. Ini memberi kesan bahwa kaderisasi parpol gagal dilakukan. Padahal banyak kader potensial yang tidak terjaring karena berbagai persyaratan yang diterapkan untuk kepentingan parpol. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)