BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Senior CORE Indonesia
Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat

Tentang proyeksi ekonomi dalam lima tahun ke depan, tentunya dengan adanya tim baru kita sangat berharap akan muncul strategi baru. Itu yang sangat ditunggu. Beberapa permasalahan sudah diketahui bersama, hanya rasanya masalahnya sekarang lebih banyak.

Dari potret yang terjadi dalam lima tahun terakhir, kita semua sepakat bahwa Indonesia juga tengah menghadapi ketidakpastian. Hal yang terpenting sekarang adalah bagaimana merespon ketidakpastian tersebut.

Karena masing-masing negara punya kepentingan sendiri-sendiri. Bagaimana meresponnya, yang pertama, tentang perlambatan ekonomi dan perdagangan. Hal itu sudah terjadi beberapa tahun dan grafik perlambatan perdagangan lebih tinggi dibanding perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Beberapa tahun lalu sudah pernah kita sampaikan outlook bahwa apa yang terjadi kini masing-masing negara mendorong kegiatan ekonominya tidak dengan bertransaksi dengan Negara lain. Jadi mencoba untuk menyelamatkan diri dengan kondisi yang ada.

Maka ternyata perlambatan ekonomi global berakibat pada penurunan harga komoditas. Hal itu bagi Indonesia luarbiasa dampaknya. Pada 2009 ekspor manufaktur 40 persen dan pada 2018 ekspor manufaktur hanya 43 persen, sisanya adalah ekspor komoditas.

Apa yang terjadi pada perekonomian global yang seharusnya kita respon adalah, ternyata terjadi peningkatan proteksionisme di Negara-negara maju. Yang diperlukan kemudian bagi Indonesia, apa yang harus dipillih, apakah seperti yang disampaikan presiden bahwa Indonesia harus lebih agresif melakukan kerjasama ekonomi. Namun harus dilihat lagi bahwa kerjasama ekonomi yang selama ini dilakukan baik CEPA, FTA, ternyata tidak berdampak bagi perdagangan dan investasi Indonesia.

Apa yang dilakukan oleh negara-negara lain menunjukan proteksi NTM (non tariff measure) mengalami tren peningkatan. Walaupun tren untuk tarif menurun karena kerjasama perdagangan antara Negara.

Yang terbanyak dilakukan oleh Negara maju dalam melakukan proteksi adalah dengan alasan-alasan untuk sanitary, vito sanitary measure. Jadi alasan-alasan hygienis, labeling, termasuk barrier untuk trade. Itu adalah bentuk-bentuk proteksi yang diterapkan Negara-negara maju.

Sampai 2018 negara-negara maju menerapkan berbagai non tariff measure. Paling banyak dilakukan oleh Amerika Serikat. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa hal itu yang terjadi. Semakin maju negara tersebut, maka dia akan semakin menerapkan berbagai proteksi untuk menyelamatkan perekonomian negaranya.

Kedua, Kondisi domestik. Sudah jamak dipahami bahwa saat ini yang bisa mendorong ekonomi domestik adalah sektor konsumsi dan investasi.

Sumbangan konsumsi sekitar 56-57 persen dan sumbangan investasi sekitar 30-32 persen. Artinya, jika kita mencoba mencari jalan atau respon kebijakan untuk mendorong dua sektor tadi, maka kita bisa mempertahankan paling tidak 80 persen dari sumber pertumbuhan ekonomi nasional. Karena selama ini ekpsor kita cenderung berdampak sangat kecil pada beberapa tahun terakhir. Malah negatif. Jadi kalau itu dilakukan, maka akan memperbaiki struktur ekonmi Indonesia.

Kenapa konsumsi dan investasi bisa menjadi penyumbang bagi perekonomian naisonal, sebabnya pertama bahwa memang Indonesia telah melakukan transformasi ekonomi. Sehingga tahun 1990 – 2000an ekspor Indonesia didominasi oleh manufaktur. Anehnya semakin jauh dari tahun 2000 an sampai sekarang ekspor malah didominasi oleh barang mentah.

Jadi memang kita lupa melakukan transformasi ekonomi dibandingkan dengan Negara-negara lain. selama ini hanya menikmati ekspor mentah. Itu juga karena ada beberapa masalah, antara lain kalau bahan mentah itu diolah ada kendala pada harga gas yang tinggi, tarif listrik juga tinggi, begitu pula upah tenaga kerja. Sehingga dari kondisi itu menyebabkan ruang untuk melakukan transformasi memerlukan dukungan kebijakan yang sifatnya lebih komprehensif.

Ihwal investasi, terlihat memang investasi kita bergerak lambat sekali. Berbeda dengan Negara lain yang naik turun investasinya amat dinamis. Kita kehilangan momentum untuk mencari peluang agar ada investasi yang besar, baik FDI atau domestik.

Tahun 2020 memang kita masih menarik untuk investasi tapi lebih pada investasi portofolio, bukan investasi langsung (FDI), yang sebenarnya pada pertumbuhan global FDI masih cukup bagus. Demikian juga untuk perdagangan dan ivestasi ternyata kita menerapkan tarif yang relatif sudah sangat rendah tapi kenapa tetap tidak menarik.

Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan strategi mengundang investor yang harus diperbaiki. Harus ditentukan akan melakukan apa, siapa yang merencanakan dan siapa yang akan menjadi penyerang. Itu harus segera disusun karena negara lain melakukan banyak argumen untuk menahan investasi dan memenangkan perdagangan mereka.

Hal lain adalah tentang kebijakan fiskal. Ternyata selama lima tahun ini Indonesia mengalami kontraksi relatif. Demikian juga dengan kebijakan moneter yang mengalami kontaksi relatif. Hanya dalam beberapa bulan terakhir terlihat kebijakan untjuk lebih melonggarkan sukubunga.

Tentang pajak, Indonesia sepertinya sedang kesulitan untuk menaikkan tingkat tax ratio.

Pajak di Indonesia lebih banyak didorong oleh pajak-pajak tidak langsung. Pajak tidak langsung terbesar adalah PPH Badan, tetapi gagal mendorong naiknya pajak individu. Kalau itu tidak dilakukan perbaikan rasanya tidak akan bisa efektif menaikkan untuk melakukan ekspansi.

Untuk 2020-2024, sebagai periode penting untuk meletakkan dasar, memang benar. Karena masa itu ada di era bonus demografi. Uniknya, sekarang di Negara-negara lain sekarang sedang menghadapi aging population. Itulah sebabnya Negara-negara industri maju saat ini ngotot melakukan teknologi 4.0.

Kita lihat sekarang Jerman, Jepang dan China sedang menghadapi masalah populasi yang menua. Jepang menghadapi aging population yang sangat dahsyat. Karenanya Jepang sekarang sudah mengarah pada society of 5.0. Masyarakat yang  dilayani di sana sudah harus paham dengan teknologi. Jadi bukan hanya supply tapi juga marketnya.

China juga demikian, sekarang sedang mempercepat untuk mendorong mesin-mesin produksi otomatis dan kemudian di impor dengan harga murah oleh Negara berkembang termasuk Indonesia. Hal itu karena China sudah menghadapi aging population. Kebijakan one child policy tahun 1972-2015 mengakibatkan aging population yang lebih cepat.

Di ASEAN yang sudah menghadapi aging population adalah Thailand. Oleh karenanya Thailand sedang melakukan relokasi industrinya ke Indonesia. Mereka juga sudah mengambil tenaga kerja dari Myanmar dan Kamboja, dan lain-lain.

Oleh karena itu semua, kami sepakat bahwa periode 2020-2024 adalah periode amat penting bagi Indonesia untuk melakukan perubahan-perubahan kebijakan dalam menghadapi bonus demografi di tahun 2030-2040.

Krusialnya masalah itu adalah karena setiap Negara hanya mengalami periode bonus demografi satu kali saja. Sekali kita lewat, maka tidak akan bisa mengembalikan lagi.

Kita punya PR bahwa tenaga kerja 60 persennya SMP ke bawah. Sebagian besar berada di sektor pertanian dan manufaktur. Jadi era emas kita 2020 sampai maksimal 2040. Itu juga pekerjaan rumah besar bagaimana memanfaatkan angkatan muda usia produktif yang berlimpah di masa bonus demografi.

Pada era itu, manufacturing sector akan menyumbang 30-40 persen dari GDP. Tapi sekarang industri manufaktur kita hanya tumbuh 19 persen. Bahkan China sekarang 40 persen masih disumbang oleh manufaktur.

Yang harus dilakukan adalah pertama, menjaga konsumsi swasta. Karena itu porsi terbesar. Pada distribusi pengeluaran penduduk berdasarkan kelompok rumah tangga, terlihat bahwa kelompok 10 persen paling bawah tidak menjadi lebih baik pada 2009-2018. Share mereka hanya 2,8 persen (konsumsi).

40 persen dari pengeluaran penduduk Indonesia hanya menyumbang 17,2 persen dari total pengeluaran. Tetapi kelompok 10 persen terkaya menyumbang 30,4 persen, 20 persennya menyumbang 45-46 persen. Itu juga pekerjaan rumah yang lain.

Jangan sampai kebijakan fiskal kita justru makin destruktif terhadap upaya untuk menjaga daya beli masyarakat. Kita perlu menjaga kebijakan-kebijakan kita dalam menjawab tantangan-tantangan tadi.

Hal lain, memperbaiki cakupan ekspor. Sepuluh item ekspor utama kita sekarang adalah komoditas primer. Jadi kalau presiden meminta ekspor harus dinaikkan, maka itu membingungkan, tanpa kita mencari komoditas-komoditas baru dan pasar baru untuk melakukan ekspor.

Demikian juga untuk investasi yang harus didorong. Harus didatangkan investasi yang tepat dengan kita dan tidak hanya investasi besar, sementara kita punya kemampuan untuk menggarap investasi menengah yang bisa didorong untuk menghasilkan produk-produk ekspor. Itu ada banyak sekali, ada VCO, essensial oil dan lain-lain.

Juga bagaimana kita bisa mengcreate sektor yang bisa menyerap lapangan pekerjaan yang cukup banyak yakni pertanian dan industri pengolahan yang penyerapan tenaga kerja per 1 persen pertumbuhannya paling tinggi.

Disamping itu Juga harus ada revitalisasi industri untuk mengurangi ketergantungan impor. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!