BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Bangun Infrastruktur, Juga Manufaktur Orientasi Ekspor

Pertama, memang event-event seperti IMF-WB forum seperti kemarin merupakan sarana yang baik untuk mempromosikan Indonesia. Pada akhirnya kita memang dapat komitmen investasi senilai Rp200 triliun. Dengan catatan, hal tersebut baru komitmen dan bukan realisasi.

Tentu nanti ke depan akan bisa terealisasi apabila semuanya memenuhi persyaratan. Kondisi-kondisi iklim investasi seperti kemudahan perizinan, birokrasi yang mendukung kemudahan berusaha, regulasi di daerah dan semacamnya itu dianggap memenuhi syarat bagi investor. Lain hal kalau misalnya ternyata ketika investor ingin memenuhi komitmen investasi tapi ternyata tidak memenuhi syarat menurut mereka, maka komitmennya bisa jadi tidak 100 persen.

Hal penundaan atau pembatalan investasi seperti itu sering terjadi. Banyak investor asing yang datang ingin menanam investasi di Indonesia, pada akhirnya yang terealisasi tidak sepenuhnya. Itu terjadi karena banyak faktor. Terutama terkait dengan kondisi–kondisi yang bisa mempengaruhi investasi. Hal itu harus secepatnya diatasi dan dipantau oleh pemerintah jika ingin komitmen investasi terealisasi 100 persen. Jadi hendaknya jangan cuma mempromosikan di setiap event internasional tapi setelah itu tidak ada follow up maka itu kemungkinan bisa gagal.

Terlebih sebagian besar komitmen investasi itu untuk proyek infrastruktur BUMN. Hendaknya tambahan atau suntikan modal ini bisa tepat sasaran digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang benar-benardibutuhkan untuk mengurangi biaya logistik misalnya, juga mengurangi biaya transportasi.

Yang namanya membangun infrastruktur pasti akan diikuti dengan impor barang modal. Hal itu tentu berpengaruh terhadap angka impor Indonesia, sehingga berpengaruh pula terhadap defisit neraca perdagangan barang. Kalau neraca migasnya juga defisit, kemudian non migas juga tidak bisa menolong maka akhirnya akan berpengaruh terhadap defisit transaksi berjalan yang terus melebar. Apalagi tahun ini diprediksi akan lebih besar dari tahun kemarin. Tentu saja mata uang rupiah kita tidak bisa ditolong jika defisit transaksi berjalan terus terjadi (CAD).

Setiap investasi pasti ada dampak atau manfaat terutama pada penciptaan nilai tambah suatu negara. Pasti berpengaruh pula terhadap PDB. Apalgi kalau investasi itu dilaksanakan di sektor-sektor padat karya. Itu akan lebih bagus lagi. Investasi yang kita butuhkan saat ini memang investasi padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja. Tantangan Indonesia sekarang adalah bagaimana menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya, diantaranya dengan investasi yang sekiranya banyak menyerap tenaga kerja. Salah satunya adalah sektor manufaktur, pariwisata dan lain-lain.

Jadi investasi itu bukan hanya menciptakan produk substitusi impor tapi investasi yang bisa menghasilkan devisa negara dengan cara export oriented. Selama ini investasi banyak datang ke Indonesia karena ingin menciptakan barang substitusi impor. Misalnya semula produk yang kita hasilkan dari impor, tapi dengan adanya investasi pabrik tersebut di Rusia maka kita tidak jadi impor tapi dibuat di dalam negeri. Contohnya adalah kendaraan bermotor dan elektronik yang dulu kita impor tapi sekarang sudah banyak berdiri pabrik/investasi asing kendaraan bermotor dan elektronik. Itu subtitusi impor.  

Oleh karena itu ke depan Indonesia harus menciptakan pabrik yang export oriented. Investor yang tanam modal di Indonesia produknya bisa di eksport balik keluar negeri. Hal itu penting untuk mendapatkan cadangan devisa. Seperti di Vietnam dan Thailand.

Kalau infrastruktur memang ada yang dinamakan “lack” atau jeda waktu yang cukup panjang. Hal itu mungkin ada kaitannua dengan beberapa proyek infrastruktur yang ditunda dan itu barangkali yang ditawarkan kepada investor asing, itu sah-sah saja. Cuma nanti jangan lupa juga bagaimana pemerintah memperbaiki daya saing sektor industri/manufaktur kita. Karena, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan industri manufaktur itu bukan hanya infrastruktur. Pembangunan infrastruktur itu oke, tapi banyak sektor-sektor ekonomi Indonesia seperti pertanian, manufaktur  yang tidak hanya dipengaruhi oleh infrastruktur. Contoh masalah energi, bahan baku, tenaga kerja lalu birokrasi perizinan, permodalan dan lain-lain. Jadi banyak sekali dan bukan hanya infrastruktur yang mempengaruhi biaya logistik. Kalau hal-hal diluar infrastruktur tadi tidak diperhatikan, maka bisa jadi infrastuktur yang kita bangun tidak bisa digunakan secara optimal untuk perbaikan daya saing industri dalam negeri. Tapi malah hanya bisa memperlancara bahan baku impor, itu yang tidak kita kehendaki. Jadi harus sama-sama dibangun secara komprehensif. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir