BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pakar Sosial Ekonomi dan Pakar Pertanian
Bangsa-Bangsa Maju Selalu Bangkit dari Sektor Pertanian (Bagian-1)

Ada dua hal persoalannya, yakni nilai tukar petani yang tidak kunjung naik. Saya diberitahu kemarin oleh serorang pakar yang saya percayai bahwa baik upah riil buruh tani, maupn upah riil buruh konstruksi, dan gaji riil pembantu, itu ketiga-tiga nya tidak naik. Ketiga profesi itu pelakunya sama yakni rumah tangga buruh tani. Pada saat ada kegiatan di pertanian suami-istri itu kerja, atau jadi buruh, kerja nyakap atau apa yang jelas mereka kerja. Tatkala musimnya tidak lagi meminta kegiatan di pertanian sang suami jadi buruh konstruksi, sedang istri jadi pembantu. Jadi dari ketiga-ketiganya itu selama ini tidak naik. Mereka katakanlah rugi, jika inflasi makin lama makin meningkat maka mereka akan termaginalkan.

Kalau secara sederhana itu istilahnya disebut sebagai “urban bias” , kebijakan yang selalu berpihak pada orang perkotaan yang lebih bisa menuntut dalam menyuarakan haknya dengan jangkauan yang lebih terorganisasi. Sedangkan petani dari jaman dulu susah terorganisir. Di pedesaan Indonesia, setelah DI/TII dan G30S/PKI , orang tidak berani protes di pedesaan.

Hal kedua yang penting untuk diketahui adalah, pertama-tama desa menjadi minus pangan tatkala perkebunan besar masuk. Yang paling nyata, sempat dicatat oleh The Kian Wee yang menulis disertasi tentang keadaan perkebunan besar di Deli, Sumatera Timur. Beliau mendapatkan data-data bahwa Sumatera Timur itu menjadi pengimpor pangan. Karena ada dua hal serentak yang bekerja, pertama, tanah petani di daerah itu diambil oleh para sultan dan diberikan kepada “Kompeni”/VOC setelah Undang-Undang 1870, di sisi lain ketika itu buruh dibawa dari luar. Mula-mula bukan buruh dari Jawa tapi dari China, lalu India yang kerja di sana. Tapi belakangan Belanda melihat ada orang Jawa disitu. Masalahnya, para buruh perkebunan itu harus diberi makan.

Ketika saya menyusun tesis, ada temuan saya bahwa kuli kebon Belanda itu tidak dibenarkan memiliki tanah sendiri. Sebabnya, jika para buruh itu memiliki tanah dan menggarap tanah mereka, maka besok nya mereka tidak akan cukup kuat untuk bekerja di perkebunan. Maksud saya adalah, memang pekerjaan perkebunan besar itu justru jadi sektor ekstraktif. Jadi beda sekali ketika dulu orang Eropa datang—sebelumnya ada orang Persia, Arab yang datang berdagang ke Nusantara—bangsa kita kebanyakan adalah petani kecil dan tidak ada perkebunan besar. Hasil rempah-rempah seperti vanilli dan sebagainya itu yang menjadi daya tarik para pendatang asing ke Nusantara. Ketika itu bangsa Indonesia mayoritas para petani kecil yang cukup mampu menghasilkan produk pertanian berkualitas baik. Sehingga hal itu menjadi daya tarik para pedagang asing untuk membeli produk pertanian kita. Petani kita pun cukup terpercaya menjadi pemasok mereka. Baru belakangan VOC mempergunakan kekuatan untuk memaksa, yang dikenal kemudian dengan tanam paksa, setelah VOC berkuasa.

Sebetulnya memang, sedari dulu itu soalnya adalah pada moda of production itu. kalau kita kembali pada pandangannya Marx, orang yang menguasai means of production (capital goods), maka dialah yang menguasai masyarakat. Means of production ini diambil oleh pengusaha dan mendapat pembiaran oleh pemerintah. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI