BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Tata Kota
Bajaj Tinggal Kenangan

Bajaj sebenarnya tidak menjadi bagian dari sistem angkutan umum. Bajaj muncul sebagai bentuk pengganti becak untuk angkutan lingkungan. Bajaj dianggap lebih manusiawi dibanding becak. Tapi seiring dengan perkembangan zaman, bajaj juga akan mengalami krisis sebagai angkutan umum. Bajaj hanya cocok untuk jarak dekat, tapi sering dipaksa untuk jarak jauh. Kadang masuk ke jalur jalan utama yang terlarang untuk bajaj.

Semakin tua usia bajaj, kondisi angkutan ini juga semakin jauh dari angkutan yang ramah lingkungan. Mesin 2 tak nya semakin boros berisik dan polutif. Angkutan ini semakin jauh dari kebutuhan warga yang menginginkan angkutan umum yang nyaman, aman, murah dan cepat. Bajaj jauh dari harapan seperti itu, sehingga semakin ditinggalkan masyarakat.

Masyarakat berubah, angkutannya tidak berubah. Tarifnya tidak pasti dan kondisinya semakin buruk, pasti akan ditinggal masyarakat yang semakin praktis dengan sepeda motor yang mudah didapat, mudah DPnya, dan lebih hemat bahan bakarnya. Jadi bajaj akan tinggal kenangan, karena bajaj sulit berubah ketika masyarakat sudah berubah. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan