BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Gema Hanura DKI Jakarta, Aktivis Rumah Gerakan 98
Bajaj Tak Boleh Hilang dari Ibu Kota

Sebenarnya dalam permasalahan bajaj ini sudah terjadi blunder sejak zaman Gubernur DKI Jakarta Fuazi Bowo. Bajaj merupakan transportasi yang sangat menunjang di daerah padat penduduk, mau pun di pusat-pusat perputaran roda perekonomian Jakarta seperti di pasar. Baja sudah menjadi transportasi yang dibutuhkan masyarakat Jakarta.

Namun di satu sisi alat transportasi ini seolah menjadi boomerang. Ini dikarena bajaj memang sangat dibutuhkan masyarakat, tapi memberi polusi bagi warga sekitarnya. Seharusnya dinas perhubungan DKI Jakarta atau Pemprov DKI Jakarta secara umum membuat suatu undang-undang yang bisa memberikan solusi buat para pemilik atau pengusaha bajaj ini. Tujuannya agar bajaj bisa dioptimalkan fungsinya sebagai alat transportasi. Sedangkan yang saya lihat bajaj ini seperti arena permainan politik 5 tahunan sekali, serupa dengan becak, tapi setelah selesai hilang juga ruang geraknya.

Bajaj adalah rangkaian bagian sejarah perjalanan Ibu Kota Jakarta dan negara ini. Saya berharap bajaj ini harus tetap ada di Jakarta, sebagai trasportasi umum atau pun sebagai trasportasi wisata. Walau orang beranggapan sudah ketinggalan zaman atau sudah tertelannya zaman karena pesatnya perkembangan teknologi, tapi bajaj saat ini masih di butuhkan oleh masyarakat Jakarta khususnya di daerah padat penduduk dan pasar serta di daerah yang dianggap strategis. Jadi kalau wisatawan domestik atau pun internasional ke Jakarta belum lihat Monas dan belum naik bajaj sebagai ikon ibu kota, belum sah menurut saya. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF