BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Praktisi Keuangan Migas
BUMN yang Mewakili Rakyat

Sejarah koperasi sudah sama tuanya dengan sejarah Republik ini. Namun, hingga kini kita dapat saksikan bahwa pengelolaan entitas tersebut masih belum menemukan format yang baik. Bahkan, peran lembaga tersebut dalam dunia bisnis/perekonomian masih sangat kecil. Dukungan pemerintah pun sangat minim. Kalaupun ada, hanya sekadar terkesan ada. Oleh karenanya sangatlah logis bila sebagian besar masyarakat tidak menaruh harapan kepada koperasi untuk dapat menjadi perwakilan rakyat yang dominan dalam perekonomian nasional ke depan. Ibarat seorang pelari dalam lomba maraton, koperasi bagaikan seorang yang tak punya napas yang panjang, kurang latihan, dan tak punya pelatih. Sangatlah tidak logis mengharapkan koperasi untuk sampai di garis finish sebagian top ten.

Setelah Koperasi, pemeran ekonomi kerakyatan berikutnya adalah UKM atau small medium entrepreneur. Menjelang 73 tahun usia Republik ini, nasib UKM sedikit lebih baik dari koperasi karena 60 persen pertumbuhan ekonomi nasional disumbang oleh sektor ini. Namun demikian masih belum mampu mengusai faktor produksi yang penting (baca: modal) secara signifikan dalam perekonomian nasional. Meskipun sudah ada kebijakan penyaluran 15 persen kredit perbankan kepada UKM, sampai akhir tahun lalu, UKM hanyalah menikmati 10 persen saja dari kredit perbankan.

Terus apakah dengan terpinggirnya 2 pilar perekenomian kerakyatan berupa koperasi dan UKM tersebut berarti kita tidak punya harapan lagi? Semestinya sih tidak karena peran serta rakyat bisa juga diwakilkan kepada negara sebagaimana termaktub dalam Pasal 33 UUD 1945. Selanjutnya negara mewakilkan peran serta rakyat dalam penguasaan modal dan faktor-faktor produksi penting tersebut dalam wujud BUMN. 

Sejak 2 dekade terakhir peran BUMN dalam perekonomian nasional semakin meningkat. Komposisi top 10 perusahaan besar di Indonesia pun cukup didominasi oleh BUMN. Di era presiden Jokowi yang fokus kepada infrastruktur, BUMN pun diberi peran dominan dengan menjadi kontraktor dan pemilik proyek infrastruktur tersebut. Keberpihakan Jokowi kepada BUMN juga cukup signifikan dalam sektor energi dan mineral dengan diserahkannya pengelolaan beberapa blok migas kepada Pertamina, serta masuknya Inalum sebagai pemilik tambang di Grasberg Papua. 

Sekarang kita berharap ada distribusi lanjutan dari penguasaan negara terhadap cabang-cabang produksi penting ini kepada rakyat. Semoga poin ini dapat menjadi fokus pemerintahan berikutnya. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF