BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Aktivis 1980-an
Aparat Terlalu Berlebihan

Melihat kerusuhan malam hari tanggal 22 Mei 2019 sangat disayangkan, sebab awalnya acara demontrasi di kantor Bawaslu sangat damai dan tidak ada masalah sampai salat tarawih berakhir. Walaupun penjagaan yang sangat ketat (seperti mau perang), bahkan banyak orang dilarang lewat di Bunderan HI dan itu sangat berlebihan.

Polisi sepertinya mau menunjukan kekuatannya kepada masyarakat, tapi justru kesan itu berbalik menyerangnya. Sepertinya kejadian di atas sangatlah amat nampak ada "skenario" yang gampang dibaca. Bahwa polisi melakukan itu dengan bahasa satu, yaitu ada provokator.

Padahal kalau kita tarik benang merahnya, bahwa kejadian itu berlangsung pasca demonstrasi bubar dan kerusuhan justru terjadi di daerah Tanah Abang yang akhirnya banyak jatuh korban dan meninggal karena tertembak timah panas. Pertanyaannya, dari mana dan siapa yang menembakkan? Apapun alibi yang dilakukan sangatlah gampang dipatahkan. Sebab, siapa yang membawa senjata malam itu?

Kerusuhan terjadi karena selama ini aparat sudah diasumsikan tidak netral. Keterlibatan aparat dalam pilpres dan pileg sangat nyata dan terbuka. Itulah yang membuat rakyat tidak memiliki rasa simpati kepada kerja-kerja aparat (polisi). Tapi disisi lain rakyat sangat membanggakan TNI. Jadi kerusuhan itu sepertinya bukan terjadi begitu saja, tapi ada "skenario" yang memang disiapkan untuk mendiskreditkan pengujuk rasa.

Pernyataan Prabowo dan Jokowi juga belum mampu meredam kemarahan massa dengan sekitar 17 orang yang meninggal dan 200 orang lebih dibawa ke Rumah Sakit. Kita berharap para pemimpin duduk bersama dan mencari solusi atas kasus tersebut.

Saling lempar tanggung jawab juga tidak menyelesaikan masalah. Karena luka rakyat sangat sulit diobati, ketika tuntutan kecurangan tidak mampu dijawab oleh KPU dan Bawaslu. Jangan sampai pembangkangan rakyat terjadi. Karena kemenangan minus legitimasi rakyat tak akan mampu membangun bangsa dan sentimen politik menjadi pemicu renggangnya keakraban sesama anak bangsa. (mry)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Massa Ke MK, Untuk Apa?

0 OPINI | 13 June 2019

Bangsa Xenophobia

13 June 2019

Bahasa Daerah, Merana Nasibmu

2 OPINI | 14 June 2019

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan