BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Apapun Yang Dilakukan Anies Pasti Salah dan Merugikan Rakyat

Setahun setelah menjadi Pilgub DKI, suhu politik tetap panas. Berbagai upaya untuk melengserkan, setidaknya mempermalukan Anies Baswedan berlanjut. Ada juga yang berprinsip, jangan biarkan Anies menang lagi.

Tapi itulah hakekat demokrasi. Siapapun yang berkuasa harus menghadapi tekanan poloitik  terus menerus dari oposisi.  Tekanan ini adalah cambuk bagi yang berkuasa agar bekerja sebaik dan sejujur mungkin.

Sejauh tak melibatkan SARA dan aparat keamanan, soal tekan-menekan adalah hal yang wajar dalam politik. Fitnah dan kabar bohong tentu saja harus dibasmi tanpa pandang bulu. Bukan hanya kubu tertentu saja yang ditindak dan dimasukkan ke penjara.

Anies dalam hal ini tentu juga harus paham bahwa tak sedikit pendukung yang membawanya dirinya menuju Jakarta-1 adalah swing voter. Mereka tak berpartai dan berpegang pada kepentingan pribadi ketika menjatuhkan pilihan politik.

Anies juga memperhitungkan bahwa 16 persen suara pemilih adalah milik AHY.  Dalam Pilgub mendatang, mereka bisa saja berseberangan dengan Anies bila AHY atau tokoh lain yang didukung putra mantan presiden ini maju.

Bila pada Pilgub DKI lalu mereka menjatuhkan pilihan kepada Anies, itu karena serangan-serangan yang dilakukan para pendukung Ahok dianggap sudah keterlaluan. Mereka tak hanya menyerang dengan berbagai fitnah dan hinaan kepada AHY tapi juga seluruh keluarganya.

Maka, selain membuktikan diri sebagai politisi jujur yang memgang teguh setiap janjinya, Anies juga harus piawai menjaga persekutuan dengan semua kubu yang mendukungnya dalam Pilgub lalu. Anies juga harus sanggup membaca dinamika dalam peta politik yang terus berubah,  terutama bila Ahok absen dan digantikan oleh new Ahok atau orang lain.

Sementara ini, tantangan terbesar Anies adalah pembangunan opini bahwa apapun yang dia lakukan pasti salah dan merugikan rakyat. Selain itu adalah penggambaran Anies sebagai representasi Islam politik garis keras.

Dilihat dari keterlibatan raja-raja media, Anies juga tak punya dukungan kuat. Surya Paloh (Media Group), Erick Tohir (Republika), Hari Tanoesudibjo (MNC group) telah menyatakan bergabung dengan kubu Jokowi.  Selain pernah memecat Anies sebagai menteri,  Jokowi adalah sekutu politik Ahok.

Dengan demikian, Anies harus bekerja lebih keras dan kreatif dalam berkomunikasi dengan rakyat Jakarta. Kegagalannya dalam berkomunikasi bisa memuat apapun yang dia capai menjadi sampah politik.

Anies juga perlu menyadari bahwa cyber army kini juga berperan penting dalam komunikasi massa. Mereka bergerak dengan cepat di dunia maya. Kini mereka bahkan kerap dijadikan acuan oleh media-media resmi. Di jaman now bahkan boleh dikatakan bahwa kegagalan atau keberhasilan seorang politisi, termasuk Anies, di dunia maya ikut menentukan nasibnya di dunia nyata.

Maka yang perlu dilakukan Anies adalah perhatian lebih besar kepada perkembangan teknologi informasi yang makin berpengaruh di dunia nyata. Berkat teknologi ini, apa yang terjadi saat ini diberitakan saat ini juga. Maka dia harus bergerak serba cepat, dan tangkas dalam menangkis sekaligus melakukan serangan balik. Ingat,  oposisi sudah menjalan perannya dengan serius dan cepat! (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF