BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia
Antara jujur dan apatis tentang perekonomian indonesia

Kita sepertinya mengalami trauma akut akibat krisis ekonomi tahun 1997/1998. Pernyataan pemerintah bahwa perekonomian kita saat ini sehat didukung fundamental yang kuat seakan mengingatkan kita akan kejadian menjelang krisis 1997/1998. Ketika itu pemerintah getol menyebutkan fundamental ekonomi kuat tetapi kemudian perekonomian kita remuk redam dihantam pelemahan rupiah hingga ratusan persen. Trauma akan kejadian itu memaksa kita untuk meminta pemerintah berkata jujur, apakah benar kita akan selamat menghadapi pelemahan rupiah yang levelnya sudah "memper-memper" sama dengan kondisi 1998. Tapi sepertinya kita sudah tidak bisa membedakan antara jujur dengan apatis. 

Ketika pemerintah mengatakan perekonomian sehat dan kuat, pelemahan rupiah masih dalam batas toleransi, kita seperti menolak mempercayai.

Kita seakan ingin memaksa pemerintah untuk menyatakan perekonomian lemah dan kita akan kembali mengalami krisis seperti tahun 1997/1998.

Terlepas dari pandangan atau keberpihakan politik, ditengah tahun politik saat ini, saya ingin mengatakan kejujuran pemerintah bukan berarti pemerintah "harus" mengatakan bahwa kondisi saat ini gawat dan darurat. Kalau itu yang terjadi bukan jujur namanya, bukan juga pesimis tapi lebih buruk dari itu. Andaikan memang kondisi perekonomian kita tidak sesehat dan sekuat yang disampaikan oleh pemerintah saat ini saya meyakini pemerintah tetap harus menyampaikan sisi-sisi dimana kita masih kuat dan punya harapan. Itu tetap jujur namanya. Memang pemerintah perlu menyampaikan juga pada titik mana kita lemah dan bagaimana pemerintah meresponsnya dengan kebijakan-kebijakan yang dianggap akan efektif menjawab semua permasalahan. 

Apakah pemerintah benar sudah jujur? Pada bagian mana pemerintah sudah jujur dan pada titik mana pemerintah kurang terbuka mengakui kelemahan perekonomian kita?

Saya menilai pernyataan bahwa perekonomian kita sehat dan kuat bukanlah sebuah kebohongan. Gampang mengukurnya. Banyak indikator yang membuktikannya. Benar rupiah melemah hingga mendekati level krisis 1997/1998. Benar pelemahan itu terjadi sepanjang tahun ini. Tapi coba lihat dilevel mikro. Kebanyakan perusahaan dan perbankan masih mencetak laba yang tinggi. Tingkat kredit bermasalah di perbankan juga pada level yang rendah. Semua indikator ini tidak mungkin tercapai apabila perekonomian kita bermasalah. Di tingkat makro, memang cadev kita berkurang. Tapi apa masalahnya dengan cadev yang berkurang. Cadev adalah reserve yang artinya memang ditujukan untuk berjaga-jaga, untuk digunakan saat dibutuhkan. Ketika digunakan cadev tentu saja berkurang. Wajar-wajar saja selama cadev yang tersisa masih cukup untuk menutup berbagai kebutuhan impor dan pembayaran utang selama setidaknya 3 bulan. Fungsi cadev ini sangat perlu untuk disosialisasikan. 

Lalu apakah pemerintah sudah jujur tentang semuanya? Memang ada sisi dimana pemerintah yang menurut saya kurang terbuka. Kelemahan kita di current account kurang diungkap secara jujur, bagaimana dan apa penyebabnya. Sehingga kebijakan yang diambil terlihat itu-itu saja. Pengurangan impor. Padahal yang paling besar menyebabkan current accoung deficit sebenarnya neraca jasa dan neraca pendapatan primer yang tentunya membutuhkan solusi yang lebih kompleks. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan