BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Antara KEK, Tahan Gempa, dan Koruptor

Pemulihan semua daerah terdampak tsunami dan gempa bumi di Palu dan Donggala jelas sangat kompleks. Bertolak dari kerusakan yang terjadi, ini seperti membangun ulang semua daerah terdampak. Maka harus direncanakan dengan sangat matang dan bersifat futuristik karena bencana serupa bisa saja terjadi di masa depan.

Artinya tak cuma biaya yang memadai, kepiawaian yang benar benar mumpuni dalam merancang dan melaksanakan pembangunan juga sangat dibutuhkan. Untuk ini semua biayanya jelas sangat mahal dan tak mungkin berasal dari kocek pemerintah sendiri.

Maka kerjasama intenasional terlalu sulit dihindari. Mengandalkan keuangan negara, yang sekarang saja sudah kedodoran dihantam pelemahan rupiah, jelas tak mungkin. Mengandalkan donatur swasta juga tak cukup karena besarnya biaya yang dibutuhkan mengingat yang hancur adalah beberapa kota dan desa sekaligus,  plus infrastrukturnya.

Oleh karena itu tak perlu gengsi minta bantuan ke negara lain karena bencana alam memang tak ada hubungannya dengan gengsi. Apalagi Indonesia masih belum sembuh dar luka akibat gempa Lombok.

Bila perlu pemerintah membentuk tim khusus untuk menggalang dana bantuan internasional. Ingat, setelah dihantam gempa besar pada 1990, Iran tak menolak bantuan dari musuh besarnya: Amerika. Gempa ini menewaskan sekitar 50 ribu orang. Setelah itu tak ada orang yang melecehkan Iran.

Hal lain yang perlu dijadikan pelajaran dari gempa besar kali ini adalah penetapan Kawasan Ekonomi Khusus(KEK),  yang didesain untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi. Tahun lalu,  meski berada di kawasan rawan gempa, kota Palu dinyatakan sebagai KEK oleh pemerintah.

Bila masih ingin menetapkan Palu sebagai KEK, kota ini harus dibangun kembali sebagai kawasan tahan gempa. Hanya saja,  biayanya tentu super mahal. Biayanya bahkan bisa melesat lebih tinggi kalau para koruptor ikut campur. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FOLLOW US

Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan