BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti
Anies Harus Kembali Berhitung

Kalau dilihat selama memimpin Jakarta kurang lebih 7-8 bulan ini, saya melihat Anies Baswedan punya ambisi cukup besar untuk ke sana (jadi RI-1). Kita bisa melihat sejumlah kebijakan yang dikeluarkan, mengenai PKL Tanah Abang, penataan Kampung Aquarium, wacana becak diaktifkan lagi dan kebijakan transportasi mencabut jalur pelarangan motor, kita melihat kebijakan Anies menunjukan dirinya pro-rakyat dan populis. Tujuannya untuk memenuhi ambisi Anies menuju RI-1.

Selanjutnya, hubungan antara Anies dengan Wagubnya Sandiaga Uno, kelihatannya gak kompak. Jadi, dalam pelaksanaan teknis dikuasai oleh Sandi, sedangkan Anies, hanya sekali-sekali keluar. Teknis di lapangan, relatif lebih dikuasai Sandi. Namun Anies memiliki ambisi dan cita-cita untuk meraih kekuasaan yang lebih tinggi.

Selain itu, Sandi yang juga merupakan ketua pemenangan Capres-Cawapres Partai Gerindra sempat menyatakan Anies dipersiapkan untuk menjadi cawapres. Dengan posisi Sandi dalam tubuh partai, saya pikir pernyataan Sandi bisa dipertanggung jawabkan dan validitasnya tidak diragukan lagi. Bahwa ada wacana untuk menjadikan Anies sebagai cawapres dari Gerindra, mungkin mendamping Prabowo.

Namun yang menjadi persoalan adalah Gerindra tidak bisa sendiri mengusung capres-cawapres. Presidential Treshold mensyaratkan 20 persen kursi parlemen untuk bisa mengusung partai. Gerindra tidak memiliki cukup kursi untuk mengusung capres-cawapres sednirian. Oleh karena itu dia harus berkoalisi, bisa saja Gerindra berkoalisi dengan PAN atau PKS. Sulit bagi Anies untuk maju sebagai cawapres apalagi capres dari partai Gerindra.

Ini dikarenakan PKS memiliki calon sendiri yang hendak disandingkan dengan capres dari Gerindra. Ada 9 nama, kemudian kini kabarnya mengerucut jadi satu nama yaitu Ahmad Heriawan (Aher). Sedangkan PAN juga punya calon sendiri. Di dalam tubuh PAN sendiri terdapat perbedaan yang tajam antara Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dengan Ketua Dewan Pembina Amien Rais. Zulkifli agak lebih pro ke kubu Jokowi, sedangkan Amien lebih mengambil sikap oposisi.

Selanjutnya, ada regenerasi yang berjalan kurang baik. Ini artinya apa, kalau pak Prabowo sudah dinyatakan maju sebagai capres. Anies sudah digandeng Prabowo sebagai sebagai cawapres, risikonya adalah pak Anies harus kerja keras bagaimana menyesuaikan gaya dan karakter dari Prabowo. Sementara ini ditingkat grassroot ditingkat masyarakat pak Prabowo ini sudah kurang laku, jualan/marketing-nya. Ini yang perlu diwaspadai oleh pak Anies.

Namun, Anies ini ada kemungkinan tidak mau. Dia sudah berkakulasi dan berhitung politik akan kalah melawan Jokowi. Nah kalau kalah, berdasarkan UU atau aturan yang baru ini dia tidak bisa kembali jadi gubernur. Tidak seperti dulu zaman Ahok, bisa kembali jadi gubernur. Anies tentu tidak mau kehilangan jabatan itu. Bahkan dia sangat bangga sekali disanjung-sanjung sebagai Gubernur Indonesia oleh pak Tjahjo Kumulo, Medagri. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF