BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Politikus/ mantan Menteri Keuangan dan Dirjen Pajak
Anggaran Tak Masuk Akal Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018

Pemerintah silahkan saja menyelenggarakan acara-acara internasional seperti Annual Meeting IMF-World Bank 2018 tersebut. Tapi, yang menjadi persoalan dari penyelenggaraan acara yang diselenggarakan di Bali ini adalah, besarnya anggaran yang dikeluarkan. Terlalu besar dan tidak masuk akal. Masak hanya untuk souvenir saja anggarannya sampai Rp90-an miliar.

Dengan kondisi semakin tingginya kebutuhan rakyat, melambungnya harga-harga kebutuhan pokok di tengah kemiskinan rakyat yang masih melanda, serta kejadian bencana yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia yang merenggut banyak korban, baik jiwa maupun materi, penyelenggaraan acara tahunan pertemuan IMF-World Bank 2018 di Bali ini terlalu mewah dan ingin terlihat glamour.

Sementara dana bantuan untuk korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah hanya Rp565 miliar dan itupun kabarnya seret. Masa anggaran untuk souvenir saja di acara Annual Meeting IMF-World Bank mencapai Rp90 miliar. Jumlah ini kan tidak masuk akal. Bahkan jika dihapus sekalipun pemberian souvenirnya, acara ini tetap berjalan dan tidak mengurangi efektifnya annual meeting IMF-World Bank. Dana Rp90 miliar tersebut tentu lebih bermanfaat bila digunakan untuk korban gempa dan tsunami.

Semangat yang ingin ditampilkan dari penyelenggaraan Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Bali ini adalah semangat kemewahan, semangat foya-foya, semangat pemborosan. Jujur saja, saya yakin anggaran yang disampaikan untuk penyelenggaraan acara tersebut sangat mark up. Sangat tidak logis untuk penyelenggaraan acara yang hanya berlangsung kurang dari seminggu anggarannya mencapai ratusan miliar rupiah bahkan hingga triliunan rupiah. Anggaran sebesar itu mark up-nya gila-gilaan.

Katanya untuk acara ini, IMF dan World Bank maupun para peserta pertemuan tersebut akan membayar sendiri segala keperluan transportasi, hotel, maupun akomodasinya? Tapi kenapa kok sampai menghabiskan anggaran hingga sebesar itu untuk penyelenggaraannya? Apalagi kalau bukan adanya semangat untuk nilep atas penyelenggaraan acara ini, bukan?

Kenapa pemerintah musti repot-repot mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyelenggarakan acara ini, dengan nilai anggaran yang luar biasa besar. Pemerintah tinggal menyuruh event organizer (EO) yang besar dan bonafide untuk menyelenggarakan dan mengemas acara ini agar terlihat menarik dan berbobot, saya rasa itu juga sudah cukup. Dari acara tersebut EO-nya mendapatkan duit, mendapatkan keuntungan, dan negara mendapatkan pemasukan dari pajak atas keuntungan yang didapatkan EO.

Toh, acara pertemuan tahunan IMF-World Bank ini hanya acara ‘basa-basi ‘ biasa. Bukan acara pengambilan keputusan yang sangat penting bagi perekonomian dunia maupun perekonomian Indonesia sendiri. Karena, pertemuan tahunan dua lembaga ini adalah sekedar perkenalan para pejabat negara-negara yang ikut serta dengan petinggi petinggi IMF dan World Bank. Pertemuan tahunan ini juga biasanya hanya diisi dengan sekedar sambutan-sambutan tertentu yang umumnya juga singkat dan basa-basi.

Agar terlihat sedikit berbobot, biasanya ada dua atau tiga makalah sebagai pengisi waktu sekalian sebagai pembuka agenda tertentu yang akan diluncurkan atau pendalaman topik yang sedang digaungkan oleh kedua lembaga tersebut. Topik-topik yang tentu saja untuk kepentingan mereka. Tidak ada impact dari pertemuan ini untuk perekonomian Indonesia. Mungkin, hanya ada cerita hotel-hotel di Bali yang laku. Selain itu tidak ada.

Kedua lembaga ini sebagai corong negara-negara maju atau Organization of Econ Cooperation Development (OECD) tentu selalu ingin menunjukkan eksistensinya. Khususnya terhadap negara-negara berkembang yang menjadi debiturnya.

Ada asumsi semakin besar yang hadir semakin bergengsi dan penting. Bahkan,  dibumbui dengan ‘dongeng’ sebagai ajang promosi pariwisata. Tapi faktanya, pertemuan tahunan IMF-World Bank 2018 di Bali ini tak berbeda dengan acara Annual Meeting IMF-World Bank sebelum-sebelumnya, hanya sebagai ajang perkenalan petinggi kedua lembaga internasional tersebut dengan pejabat negara-negara yang hadir disana dan ajang basa-basi belaka. (Afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Upaya Perampokan Aset Negara di BUMN Geo Dipa Energi (Bagian-1)             Upaya Perampokan Aset Negara di BUMN Geo Dipa Energi (Bagian-2)             Rupiah Terpuruk di Atas Struktur Ekonomi Tak Sehat (1)             Selesaikan PR Rantai Ekspor, Ekonomi Biaya Tinggi (2)             Kuncinya Pada Penyediaan Infrastruktur Dasar             Maksimalkan Desentralisasi, Tak Perlu Asimetris             Otsus, Antara Bencana Atau Solusi             Otonomi Daerah Jangan Setengah-Setengah             Bereskan Dulu Masalah Penggunaan Dana Desa, Baru Bicara Dana Kelurahan             Oknum ASN Harus Berhenti Memposisikan Diri Seolah Pemilik Instansi