BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior 
Anggaran Pembinaan Harusnya Lebih Besar dari Birokrasi

Prestasi olahraga kita di tingkat regional dan internasional memang menurun selama tiga dasawarsa terakhir. Terakhir kali kita menjadi juara umum SEA Games, yang diselenggarakan bukan di Indonesia, sejak medio 1990-an. Padahal, sejak 1975 kita selalu menjadi juara umum. Di Asian Games 1962, selaku tuan rumah, kita merebut peringkat kedua perolehan medali. Sejak itu di level Asia itu kita selalu terlempar ke urutan belasan, bahkan 20-an. Di olimpiade, perolehan medali makin minim dan supremasi di cabor bulu tangkis sudah lama berakhir.

Penyebabnya pembinaan yang kurang maksimal karena minimnya kompetisi. Bukan rahasia sebagian besar cabor tidak menyelenggarakan kegiatan yang kompetitif (seperti kejurnas) untuk menjaring atlet-atlet terbaik. Tanpa kompetisi, kemunculan bibit-bibit berbakat dan peningkatan prestasi mustahil tercapai.

Moto olimpiade "citius, altius, fortius" (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat). Dengan kata lain, "olah raga" kurang ada hubungannya dengan "olah jiwa" karena atlet memiliki tubuh yang kuat dan jiwa yang sudah sehat. Pembinaan kita gagal juga karena penelitian dan pengembangan (litbang) yang kurang memadai karena dana yang terbatas. Suka atau tidak, prestasi meningkat jika dana pembinaan mencukupi.

Sebagian besar dana olahraga kita dihabiskan oleh birokrasi yang terlalu gemuk. Ada Kemenpora, KONI pusat, KONI daerah, KOI, pengurus cabor dari pusat sampai provinsi, dan seterusnya. Sudah waktunya dipikirkan cara yang tepat untuk mereformasi birokrasi olahraha kita agar lebih ramping dan efisien. Juga tak kalah penting adalah agar pembinaan lebih difokuskan ke profesionalisme sehingga atlet dapat mengandalkan olahraga sebagai pilihan kariernya. Olahraga amatir yang hanya mengandalkan semangat bertanding membela nama bangsa dan negara sudah menjadi masa lalu. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF