BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF
Aneh, Jika BI Tidak Menurunkan Sukubunga Acuan

Keputusan BI untuk menahan suku bunganya pada RDG terakhir ibarat pengemudi yang sudah tahu lampu menyala hijau dan jalanan lancar, tapi tidak kunjung tancap gas.

Jika ada pengemudi tidak mau tancap gas padahal lampu hijau dan jalanan lancar, maka yang bisa dilakukan adalah mengingatkan pengemudi di depan kita agar sadar sehingga tidak menghambat perjalanan orang lain.

Itulah pesan inti yang harus disampaikan: BI harus berani melakukan kebijakan ekspansif dengan menurunkan suku bunganya agar perekonomian Indonesia bisa melaju lebih cepat. Kapan sampainya kita ke tujuan kalau hanya menginjak rem?

Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen jika ingin terbebas dari kutukan ‘middle-income trap’ (jebakan penghasilan sebegitu saja) alias risiko tua sebelum kaya. Jika BI ragu atau takut untuk merelaksasi kebijakan moneternya, BI turut berdosa membuat perekonomian kita hanya tumbuh stagnant. Dalam jangka panjang, akumulasi dosa ini dapat berakibat membuat banyak masyarakat Indonesian akan tua sebelum kaya.

Ancaman tua sebelum kaya ini sangat berbahaya karena, ketika penduduk suatu negeri telah menua, berarti mereka sudah tidak lagi produktif. Ditambah, negara harus sudah siap menyediakan berbagai fasilitas ketika para warganya ini sudah menjadi manula. Jaminan kesehatan dan hari tua yang terjangkau, dana pensiun yang cukup untuk bertahan hidup, fasilitas untuk para dhuafa, pantai jompo yang layak, dan lain-lain, adalah beberapa tantangan yang mesti disiapkan sebelum penduduk kita menua.

Saat ini, indonesia beruntung dianugerahi oleh bonus demografi: kondisi dimana anak-anak muda atau generasi produktifnya masih lebih besar dibanding generasi tua.

Namun, diprediksi bonus demografi ini akan berakhir pada 2060, yaitu ketika Indonesia akan memasuki masa yang dikenal dengan istilah ‘aging population’ atau era di mana generasi milenial saat ini akan sudah menjadi kakek-kakek atau nenek-nenek.

Belajar dari negara lain seperti Jepang dan Korea, Indonesia mesti mencapai pendapatan per kapita sekitar 40.000 dolar AS sebelum era bonus demografi ini berakhir. Saat ini, pendapatan per kapita masih sekitar 12.000 dolar AS. jadi, masih jauh sekali dari posisi ideal.

Konsekuensinya, otoritas pemerintah dan BI mesti kerja lebih keras untuk mendorong pertumbuhan ekonomi agar tidak stagnan di level 5 persen seperti yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Sekali lagi, karena kita, mumpung masih muda, mesti berlari lebih cepat mengejar ketertinggalan kita, agar tidak terjebak di kondisi ‘tua sebelum kaya’.

Singkat kata, ada dua kesimpulan yang ingin saya sampaikan. Pertama, kebijakan BI untuk mempertahankan suku bunganya dalam RDG terakhir kurang tepat, mengingat kondisi internal dan eksternal telah jauh berbeda dibanding 5-6 bulan terakhir. Badai telah berlalu. Kedua, BI mesti lebih berani untuk melakukan kebijakan ekspansif guna mendorong perekonomian nasional agar mampu berlari lebih cepat, ketimbang hanya puas di level 5 persen. Kecepatan ini masih terlalu lambat untuk mengejar ketertinggalan kita dengan negara lain dan juga membebaskan kita dari kutukan ’middle income trap’ atau kutukan ’tua sebelum kaya’.

Terkait prinsip (inflation targeting framework (ITF). BI menggunakan prinsip ini sebagai anchor kebijakan moneternya. Targetnya adalah pengendalian inflasi, tidak seperti dulu sebelum krisis 98 yang fokus pada pematokan nilai tukar rupiah yang tetap (fixed exchange rate).

Kenaikan BI rate hingga 4 kali pada 2018 mesti dipahami sebagai pengendalian stabilitas makro ekonomi secara keseluruhan, khususnya nilai tukar rupiah ketimbang pengendalian inflasi. Mengapa, Pertama, Karena selama 2018 rupiah babak belur gara-gara arus modal keluar.

Kedua, sedangkan di sisi lain, inflasi sangat rendah semenjak beberapa tahun terakhir. Jadi rendahnya inflasi di indonesia lebih karena tren global ketimbang keberhasilan otoritas indonesia. Rendahnya inflasi merupakan tren global, bahkan di beberapa negara maju mereka malah mengalami deflasi.

Jadi, ketika situasi sudah berubah pada 2019 ini, menjadi aneh ketika BI tidak menurunkan suku bunganya, padahal ancaman modal keluar sudah selesai dan inflasi sangat rendah di kisaran 2,5 persen-3 persen. Selisih suku bunga dan inflasi kita terlalu besar, ujungnya, rakyat biasa dan orang kecil yang dirugikan dengan tingkat bunga yang tinggi seperti ini. Bayangkan berapa bunga KPR, atau cicilan motor atau mobil yang harus orang-orang biasa harus tanggung gara-gara tingginya suku bunga ini.

Hal lain terkait inflasi dan daya beli, lemahnya daya beli disebabkan oleh setidaknya 2 hal:

Pertama, karena melemahnya rupiah. Banyak barang-barang konsumsi masyarakat merupakan barang impor sehingga pelemahan rupiah berarti membuat harga barang impor ini jadi lebih mahal yang pada akhirnya menggerus daya beli.

Kedua, karena terlalu tingginya suku bunga BI. Semakin tinggi suku bunga, semakin tergerus pula daya beli masyarakat, baik itu yang dilakukan oleh rumah tangga atau perusahaan. Misalnya, semakin tinggi suku bunga acuan BI maka semakin tinggi pula suku bunga cicilan-cicilan lainnya seperti KPR, cicilan motor, mobil, dan lainnya. Sehingga, wajar kalo daya beli belakangan merosot karena 2 hal tersebut: Rupiah melemah dan BI rate terlalu tinggi.

jadi, kita boleh tidak setuju dengan analisis BI dan BPS yang menyatakan bahwa rendahnya inflasi bukan cerminan lemahnya daya beli masyarakat. Jelas-jelas hal ini karena pertama, impor yg terus membengkak dan semakin ketagihan dengan barang-barang impor. Kedua, Impotensi produksi nasional dalam menciptakan barang-barang serupa. Ketiga, Rupiah yang terus melemah dalam beberapa tahun terakhir. Keempat, Tingginya suku bunga yang ditetapkan oleh BI.

jika BI konsisten dgn argumen yang mereka bangun baik pada RDG terakhir atau selama 2018, maka tidak ada faktor eksternal/global yang patut ditakuti. Jika kita lihat data perekonomian global, termasuk AS, Eropa, dan negara-negara besar lainnya, secara garis besar kita bisa lihat bahwa perkeonomian dunia jelas ke arah perlambatan.

kedua, sangat kecil sekali kemungkinan opsi bagi the Fed AS untuk menaikkan suku bunganya pada tahun ini. opsinya hanya 2: menahan atau bahkan menurunkan suku bunganya.

konsekuensinya apa bagi Indonesia? ancaman arus modal keluar seperti tahun lalu tidak akan terjadi separah seperti tahun lalu dan angin segar ini nampaknya akan berlanjut hingga tahun depan. Jadi, aneh jika BI memutuskan untuk mempertahnkan suku bunganya di level yang sama (6 persen) dengan kondisi badai modal keluar seperti 2018 lalu.

Alasan bahwa Bi juga khawatir bahwa selama ini yang jadi andalan investasi adalah portifolio. Terutama untuk menutup CAD, sepertinya kemungkinan itu ada. CAD bisa ditutup dengan investasi asing, bisa berupa portfolio atau investasi langsung (FDI). idealnya, CAD mesti ditutup dengan FDI. Masalahnya, pemerintah kesulitan untuk menarik FDI ke Indonesia, pun yang dapat datang adalah yang berorientasi pasar domestik dan tidak dapat di-ekspor (non-tradeable).

Konsekeuensinya, FDI semacam ini justru ke depan hanya akan memperparah CAD kita karena investasi yang seharusnya diharapkan mendongkrak produktivitas dan ekspor, justru malah hanya menjadikan kita sebagai pasar saja dan bukan basis produktif. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu             Bukan Hidup Abadi Badaniah Semata             Hidup Abadi Masih Spekulatif