BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti PUSPOL Indonesia, Alumni S-2 Ketahanan Nasional UI, Wakil Sekretaris Jenderal Forun Serikat Guru Indonesia (FSGI)
Ancaman Proxy War Dalam Bibit Berbakteri

Dalam prespektif ketahanan nasional, perang di masa kini dan masa mendatang memiliki beberapa bentuk. Pertama, perang yang tidak langsung kelihatan siapa musuh yang tengah dihadapi, bisa orang yang memiliki kewarganegaraan berbeda, ras berbeda, bahasa berbeda, warna kulit berbeda, hidung berbeda, maupun memiliki, kewarganegaraan, bahasa, ras, warna kulit hidung yang sama,  atau sering disebut sebagai "Proxy War". Produksi, distribusi dan bahkan narkoba dari negara-negara tertentu seperti Tiongkok, begitu masif masuk ke Indonesia. Hal inilah yang disinyalir merupakan bagian dari perang tersebut.

Kedua, perang cyber yang kontestasinya bergantung pada perangkat internet. Segala produk teknologi komunikasi-informasi yang telah menjadi kebutuhan primer dalam segala sisi kehidupan. Internet saat ini telah menjadi media yang rentan untuk dikendalikan kekuatan-kekuatan tertentu. Bertujuan melemahkan (sistem informasi) suatu negara. Penyebaran virus, dan segala macam bentuk kejahatan di dunia maya merupakan salah satu praktek dari perang cyber ini.

Ketiga, perspektif yang mengatakan bahwa perang di masa depan, adalah perang yang memperebutkan cadangan pangan. Dengan bentuk "Perang Asimetris" (Asymmetric Warfare). Negara-negara tropis yang nota bene memiliki limpahan cadangan pangan dan memiliki ketahanan energi sekaligus pangan yang relatif stabil dan kuat akan menjadi korban pertama perang asimetris ini. Buatlah lemah negara-negara dengan pangan dan sumber daya alam yang melimpah itu. Agar makin mudah menguasainya.

Bagaimana dengan penggunaan teknologi biologis dan penyebaran bibit tanaman komoditas berbakteri yang termasuk dalam bioterorisme? Fenomena bioterorisme itu sebenarnya bukan peristiwa yang baru dalam ranah sejarah perang dunia. Pada Perang Dunia I, Jerman menggunakan bakteri patogen sehingga menyebabkan virus antrax untuk menginfeksi ternak-ternak dan kuda-kuda tentara sekutu.

Artinya cara-cara penggunaan media tumbuhan, virus, penyakit, bakteri atau mikrobilogi lainnya sebagai senjata untuk melemahkan lawan, adalah strategi perang yang sungguh menyeramkan, dan fakta tersebut ada dalam rekam sejarah dunia. Padahal Konvensi Senjata Biologi (2008) jelas-jelas melarang penggunaan senjata bioteknologi dan harus ada pengawasan yang ketat terhadap penggunaan bioteknologi tersebut.

Perihal ditemukannya benih bawang putih impor dari China yang terinfeksi Nematoda, ladang cabai beracun di  Kabupaten Bogor yang berasal dari Tiongkok, tanaman wortel beracun di Jawa Tengah yang diduga juga berasal dari Negeri Tirai Bambu dan lainnya. Mestinya, intelijen kita harus mampu membaca dan mengidentifikasinya. Apakah ini benar-benar dikategorikan "disengaja" diproduksi dan disebarkan di Indonesia? Jika demikian halnya, secara yuridis, Indonesia bisa memberikan sanksi hukum tegas bagi pelaku. Kemudian secara politik-diplomasi, tentu hal ini bisa menjadi protes Indonesia kepada Tiongkok.

Terpenting, harus ada kemudian keberanian pemerintah untuk menyimpulkan bahwa, apakah peristiwa di atas adalah kejahatan pertanian/lingkungan biasa atau bagian dari "Proxy War" atau "Asymmetric Warfare" yang bertujuan untuk melemahkan Indonesia? (afd)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi