BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
Anatomi dan Implementasi Pancasila Otentik

Bung Karno adalah penggali Pancasila yang otentik dan telah menguraikan sejak pidato lahirnya Pancasila bahwa ideologi yang dirumuskannya adalah jalan tengah dari dikotomi dan konflik Perang Dingin.

Dalam pidato berjudul To Build the World A New di gedung PBB tahun 1961, Bung Karno jelas mengatakan bahwa Pancasila berketuhanan itu yang membedakan dari ideologi sosialisme, komunis, atheis, sekuler. Tapi Pancasila juga menghormati hak milik individu dan mekanisme ekonomi pasar terkendali. Itu merupakan kreativitas metamorfosa tahapan Pancasila yang cocok dengan mawas dirinya sistem kapitalisme dalam 4 versi sejak ditantang oleh fasisme dan komunisme.

Orang zaman sekarang mudah terperangkap dalam antipati demokrasi liberal karena mengidentikkan Trump dengan demokrasi liberal. Memang sekarang ini sedang terjadi kerancuan antara siapa yang pro pasar bebas dan siapa yang malah proteksionis chauvinistis. 

Pancasila oleh Bung Karno sudah dinyatakan adalah een hogere optrekking, suatu peningkatan atau sublimasi ketingkat yang lebih tinggi dari kapitalisme pasar bebas dan sosialisme yang menabukan hak milik pribadi. Terbukti Marxisme gagal setelah 30 tahun di Tiongkok dan 70 tahun di Uni Soviet malah negaranya bubar jadi Rusia dan selusin negara baru seperti Kazakstan, dan lain-lain.

Yang menjadi masalah di Indonesia adalah otentiknya Pancasila itu tidak diterapkan secara nyata dalam implementasi praktis perilaku birokrasi terhadap masyarakat.

Dalam Negara Pancasila, elite dan birokrasi mestinya mendidik, membimbing dan mengupayakan kesejahteraan warga dan peningkatan kinerja secara sinergi sebagai suatu Indonesia Inc yang bersatu padu bersaing dengan bangsa lain atas dasar produtivitas.

Kalau itu dilakukan, maka ekonomi kita pasti bisa tumbuh 7 persen. Potensi masyarakat yang disia-siakan jadi demo rusuh dan perang hoaks setahun suntuk, itu telah menyedot dan memubazirkan milyaran dollar GDP Indonesia. Karena itu total daring Vientam 450-an miliar AS, sedang kita cuma 325-an miliar AS, padahal penduduk kita lebih dari 2 jumlah penduduk Vietnam.

Kata kunci kita adalah stop fanatisme ideologi apalagi malah ekstrem khalifah, maupun chauvinisme yang tidak manusiawi. Kembali ke Pancasila yang otentik, yang merupakan jalan tengah yang justru terjadi di Eropa Barat AS dan Jepang dalam keseimbangan antara negara dan pasar secara konkret dalam Negara Kesejahteraan.

Kita cuma berteori dan berwacana serta merumuskan slogal muluk. Pancasila tidak perlu difanatikkan tapi harus diselamatkan dari kemunafikan. Setop fanatik Pancasila. Setop munafik Pancasila. Kita kembali ke otentik Pancasila.

Jadi slogan kita 1 Juni 2019 ini adalah Berhenti Pancasila Fanatik dan Munafik, Jadilah Yang Otentik Pancasila. In action, bukan cuma wacana, teori, dan pidato tapi action pelayanan birokrasi dan elite politik untuk meningkatkan kinerja Indoneisia Inc. Pasti kita akan jadi nomor 4 dalam kualitas pada 2045. Memang simple hanya mengubah kuantias menjadi kualitas, dari NT ke L, dari penyakit ntar besok menjadi langsung lugas, dari sekadar nomor 4 kuaNTitas menjadi nomor 4 kuaLitas. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar