BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Girang Pangaping Adat Masyarakat Adat Karuhun Sunda Wiwitan Cigugur dan Panglima Jaringan antar Desa GEMPUR
Alam Bukan Benda Mati tapi Makhluk Hidup

Kami masyarakat adat Sunda Wiwitan mempunyai kosmologi dalam melihat gunung dan laut. Dalam prespektif kami gunung adalah Sang Hyang Sirah yang berarti kepala. Seperti juga kepala manusia, bagi kami gunung juga mempunyai panca indera . Sedangkan laut adalah Sang Hyang Dampal atau kaki. Aliran air dan titik-titik tertentu, seperti lempeng bumi, sesar atau patahan bumi dan sebagainya dalam kosmologi kami adalah organ tubuh seperti jantung dan sebagainya.   

Kami juga mempunyai metode tata ruang yang sudah turun temurun. Konsep hutan larangan dan hutan tutupan menjadi bagian dari tata ruang berdasarkan kearifan lokal. Saya yakin budaya dan tradisi berbagi suku di Indonesia juga mempunyai kearifan lokal semacam ini. Hanya saya model tata ruang yang berdasarkan kearifan lokal semacam ini tidak masuk dalam prespektif tata ruang masa kini.

Kami berpandangan bahwa bumi, air, dan tanah yang kita pijak ini bukan benda mati melainkan makhluk hidup. Jadi kita tidak bisa berbuat semena-mena  dan serta merta memanfaarkan tanah tanpa memperhatikan kontur dan bentuk bumi. Tidak bisa hanya karena mengejar keuntungan kita mendirikan bangunan tapi berakibat tertahannya aliaran air.

Kami percaya setiap gunung pasti mempunyai mitos tentang naga atau ular besar. Setelah berdiskusi dengan para ahli geologi dan geodesi ternyata kepercayaan kami tentang ular besar itu adalah lempeng atau patahan bumi. Dalam prespektif kami semua itu adalah juga makhluk hidup yang perlu diselaraskan kehidupannya. Ada pakem-pakem atau pamali-pamali yang harus dipatuhi.

Budaya dan kearifan lokal semacam ini harus pula kita hargai. Kita bolehlah berpikiran barat yang katanya lebih modern, tapi model-model kearifan lokal harus pula masuk dalam pemikiran kita. Dalam hal perencanaan tata ruang, kearifan lokal selayaknya diperhatikan. Pasalnya budaya dan kearifan lokal itu lahir dari buah pikiran dan pengamatan nenek moyang dalam waktu lama, termasuk tentang bagaimana mengantisipasi datangnya bencana alam.

Struktur bangunan Julang Ngapak yang dikenal masyarakat tradisional Sunda ternyata mempunyai kemiripan dengan bangunan di Jepang. Sistem kait mengait, ikat, dan pasak terbukti tahan gempa. Seperti diketahui Jepang juga berada di wilayah yang rawan gempa.

Sayangnya peninggalan nenek moyang itu sudah ditinggalkan dengan alasan kurang praktis dan tidak sesuai dengan kemajuan jaman. Tapi jika terjadi bencana seperti yang kita saksikan barulah kita menyadari bahwa warisan nenek moyang yang berupa kearifan lokal itu sangat tepat diterapkan di Indonesia.

Masyarakat modern menganggap alam adalah sesuatu yang harus dieksploitasi dan dikuasai. Berbeda dengan masyarakat adat yang mengganggap alam adalah bagian dari kita. Kedua anggapan ini sejatinya bisa diselaraskan. Mengeksploitasi dan menguasai bukan berarti merusak.

Oleh karena itu yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana agar budaya dan kearifan lokal bisa mendapat ruang untuk kembali dipelajari dan diterapkan. Terlebih dalam kenyataan banyak masyarakat perkotaan yang merindukan dekat dengan alam dan kearifan lokal meski dalam prespektif modern. Naluri dasar manusia memang selalu merindukan dekat dengan alam. Sebab memang manusia tidak bisa dipisahkan dari alam. (ysf)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF