BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen STAIN Bengkalis
Aksi Teror, Selesaikan Bersama Tanpa Saling Menjatuhkan

Kejadian di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5/2018), merupakan gerakan teroris yang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Salah satu tujuannya, sebagai ekspresi kekecewaan politik terhadap pemerintahan Jokowi-JK. Beberapa indikasi yang memperkuat alasan ini bisa dilihat dari beberapa gerakan anti Jokowi, mulai dari Pilkada DKI Jakarta 2017, berlanjut dibubarkan Ormas Hizbut Tahrir Indonesia dan ormas-ormas keagamaan lain yang dianggap radikal. Persoalan tersebut menjadi jalan para oposisi dan anti Jokowi untuk melakukan kritik secara masif.

Bentuk kritik yang bisa dibaca berupa isu-isu negatif seperti anti-islam, pro Cina, bangkit PKI, serbuan tenaga Cina ke Indonesia, jual aset negara, sampai pada anjloknya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ujung dari semua itu semata-mata adalah motif politik. Dan tagar ‘2019 Ganti Presiden’ adalah tujuan akhir dari proses kebencian terhadap Jokowi secara sistematik.

Selain itu, target aksi teroris untuk menciptakan keresahan masyarakat. Para dalang teror sedang membangun opini bahwa Jokowi tidak mampu menciptakan rasa aman di tengah masyarakat. Sehingga mereka mulai berpikir untuk memimpin bangsa ini adalah orang yang mempunyai kekuatan dan ketegasan. Ujung-ujungnya adalah keinginan tampilnya politikus berlatar belakang militer untuk menggantikanya.

Jika aksi bom bunuh diri ini dikaitkan dengan tidak segera disahkannya RUU Terorisme, sebenarnya sebagian anggota DPR sedang bermain mata dengan ormas-ormas yang selama ini sering dikaitkan dengan radikalisme. Ada semacam win win solution; sama-sama mendapatkan kepentingan bersama. Namun jika teroris itu suatu persoalan serius, maka satu-satunya harapan saat ini adalah keseriusan untuk menyelesaikan secara bersama-sama tanpa saling menjatuhkan.

Politik etis harus dibangun. Komunikasi yang menjadi brand gaya Jokowi seharusnya juga dilakukan dengan melakukan pendekatan terhadap oposisi dalam rangka menyelesaikan persoalan bangsa. Pada dasarnya, teroris hanya letupan kecil dari persoalan yang lebih besar. Tapi kecil atau besar pengaruhnya tergantung para pemain dan dalangnya. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu             Bukan Hidup Abadi Badaniah Semata             Hidup Abadi Masih Spekulatif