BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.
Aksi Sayat Tangan Pelajar ditengah Minimnya Guru Konseling

Dalam dua bulan terakhir ini setidaknya telah terungkap aksi para pelajar di tiga daerah berbeda yang melakukan aksi sayat tangan sendiri. Yakni sebanyak 56 pelajar SMPN di Surabaya, 56 pelajar di SMPN 18 Pekan Baru, dan 41 pelajar di SMPN 1 Gunung Sugih Lampung Tengah. Entah, apakah aksi sayat diri sendiri yang di setiap tempat melibatkan puluhan anak juga berlangsung di tempat dan sekolah lainnya yang belum terungkap? 

Dari pendalaman kasus, diketahui para pelajar itu umumnya terinspirasi setelah menonton video aksi sayat tangan yang beredar di media sosial. Dan umumnya para pelajar itu punya masalah pribadi tapi tak mendapat pendampingan untuk pemecahannya, kurang mendapat perhatian selayaknya dari keluarga dan orang-orang sekitar, dan tidak menemukan figur tepat untuk curhat. 

Aksi menyayat diri sendiri ini memang berbeda dengan aksi yang sempat ngetren di kalangan pelajar pada awal-awal tahun 2017. Yakni “skip challenge” atau “pass out challenge”, yang dilakukan lebih dari satu anak atau sekelompok anak. Biasanya bergantian, diselingi ketawa-ketiwi anak- yang menyaksikan seakan itu atraksi seru-seruan biasa, padahal berpotensi membahayakan keselamatan dan kesehatan, bahkan kematian. 

Bagaimana tidak bahaya, daerah dada anak ditekan kuat-kuat beberapa saat oleh anak lain, sehingga pasokan oksigen ke otak berkurang atau malah terhenti. Lalu anak itu kejang-kejang, berlanjut hilangnya kesadaran (pingsan) sesaat. Beberapa saat setelah itu, biasanya si anak kembali siuman. Tak sedikit anak memperoleh sensasi “ngeri-ngeri sedap”, menegangkan, sekaligus "menyenangkan". Padahal aksi itu sungguh membahayakan kesehatan dan keselamatan anak.

Tidak seperti skip challenge, pada aksi sayat tangan, seorang anak bisa melakukan sendiri, tidak berkelompok yang diselingi ketawa-ketiwi yang menyaksikannya, dan tidak harus dilakukan sampai pingsan. Namun tetap saja aksi sayat tangan ini harus ekstra diwaspadai mengingat bisa saja memicu tindakan lanjutan yang bisa mengarah kepada tindakan yang lebih nekat, seperti aksi bunuh diri dengan menyayat nadi hingga putus. 

Aksi sayat tangan para pelajar itu memang menggambarkan bahwa mereka sesungguhnya mewakili anak-anak yang galau dan rapuh ketika harus menerima kenyataan menghadapi permasalahan kehidupan pribadi yang tak seindah harapannya justru di saat usianya masih belia. Anak-anak itu butuh pendampingan yang prima dalam menghadapi persoalan yang dihadapinya. Jumlah anak yang seperti itu boleh jadi jutaan, bahkan mungkin puluhan jutaan di negeri kita. 

Mereka butuh figur otoritatif, baik itu orangtua maupun guru atau keluarga, yang asyik diajak curhat, tidak jutek, dan mampu menjadi penyuluh bagi penguatan langkahnya ke arah yang benar, bukan yang menyesatkan. Mereka juga butuh teman yang tidak sekadar hangat dalam pergaulan dan empatik terhadap dirinya, melainkan juga memiliki cara berpikir positif dalam memandang sebuah permasalahan, bukan teman yang berpikir negatif yang bisanya cuma memberi inspirasi menyayat tangan saat sebuah masalah menghadang. 

Saya pikir sudah saatnya mulai saat ini dan seterusnya secara permanen, setiap sekolah setingkat SMP dan SMA harus: 

Pertama memiliki guru-guru konseling yang handal dan senantiasa diupdate pengetahuan dan keterampilan tekniknya lewat diklat-diklat berkualitas yang dianggarkan dinas pendidikan setempat. Para guru konseling itu harus benar-benar proaktif mengidentifikasi dan menyolusi permasalahan yang secara umum dan tiap hari berkembang di kalangan pergaulan siswa-siswinya. 

Selain itu, para guru juga harus proaktif mencari solusi dari masalah pribadi yang dialami siswa-siswinya secara bijak dengan pendekatan gaul ala "kids jaman now". Dalam konteks guru konseling ini, saya melihat banyak guru konseling di banyak sekolah yang tidak proaktif dan juga belum memperbaharui keterampilan komunikasi dan pendekatan dalam rangka mengikuti perkembangan generasi "kids jaman now".

Kedua, memiliki PIK-(Pusat Informasi Konseling Remaja) yang dikelola oleh para pelajar di sekolah itu sendiri yang harus dilatih secara secara berkelanjutan lewat pelatihan pendampingan dan konseling yang berkualitas dan dianggarkan oleh dinas pendidikan setempat. 

Saya melihat betapa masih amat banyak sekolah yang belum memiliki PIK-R, atau jika pun punya tidak difungsikan secara proaktif. Dan dari yang ada pun, SDM remaja yang jadi pengurus PIK-R juga belum difasilitasi dalam pelatihan-pelatihan berjenjang pendampingan dan konseling yang amat berguna bagi dirinya saat mendampingi pelajar lain yang butuh pendampingan. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)