BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sejarawan UI, pemerhati sejarah Islam Indonesia
Akibat Membaca Kitab Suci Secara Tekstual

Tema Bumi datar banyak dibahas di sosial media. Banyak juga yang menerbitkan buku tentang tema ini. Kalau saya lihat, ada umat Islam percaya pada teori Bumi datar, karena umat sekarang mulai gersang secara intelektual. Mereka yang percaya bersandar pada kalimat-kalimat ayat dalam Al-Quran bahwa Allah berfirman Bumi "dihamparkan." 

Mereka yang meyakini Bumi datar berdasar Al-Quran berarti mereka melihat kitab suci hanya secara tekstual. Ketika menemukan kata "dihamparkan" langsung diartikan Bumi bentuknya datar. Padahal Al-quran juga harus dibaca secara kontekstual. Ulama-ulama terdahulu saja sudah membaca Al-Quran dengan cara kontekstual. Tidak hanya ditelan teksnya, tapi juga dikaji dan diuji dengan ilmu pengetahuan. 

Orang-orang yang percaya Bumi datar ini tak menggunakan kemajuan teknologi, misalnya internet, untuk mengeskplorasi pengetahuan. Mereka justru memakai internet untuk mencari informasi yang salah tanpa dicerna. Dari laju ilmu pengetahuan ini sifat instan-nya justru yang diambil. Kemudahan untuk mencari dan mengeksplorasi lebih lanjut malah tak dilakukan.  

Bayangkan saja, di abad ke-17, ada seorang penguasa dan pedagang dari Makassar bernama Karaeng Pattingaloang memesan bola dunia atau globe pertama dari Eropa. Bayangkan, dari negeri kita yang dianggap antah-berantah memesan bola dunia pada peradaban yang dulu menganggap Bumi datar. Kalau hari ini di Indonesia muncul kepercayaan sebaliknya, ini kemunduran. Padahal di zaman dulu belum ada internet. 

Semangat orang zaman sekarang mencari informasi tak berdasar semangat menambah wawasan atau ilmu pengetahuan, tapi lebih pada semangat revitalisme, mengagungkan apa yang keluar dari kelompoknya dan itu dianggap kebenaran. Akhirnya pengetahuannya nggak berkembang. Di Al-Quran sendiri Allah selalu bilang "pergunakan akalmu". Berkali-kali Allah bilang "Kamu mikir nggak..." 

Mereka nggak bisa memilah, mana kitab suci sebagai kebenaran agama dan mana kitab suci sebagai sumber ilmu pengetahuan. Kalau kita menempatkan Al-Quran sebagai sumber ilmu pengetahuan, sebagaimana ulama-ulama terdahulu, mungkin bakal berbeda. Sekarang ini benar-benar percaya teks-nya, dengan pemahaman bahasa Arab terbatas yang mereka miliki. 

Dari segi linguistik, bahasa Arab adalah bahasa terumit di dunia, baru setelahnya bahasa Rusia. Jadi ketika ada kata "dihamparkan" atau "seperti karpet" atau "tikar" jangan diartikan sekadar teks. Itu adalah keindahan Tuhan menggunakan metafora-metafora. Jangankan sebagai sumber pengetahuan, metafora saja mereka gagal memahami, itu kan agak repot.           

Faktor lain juga yang turut berperan, menurut saya, teknologi berkembang pesat, namun ilmu pengetahuan tak demikian. Dulu ada Newton dan di awal abad ke-20 ada Einstein. Sekarang masih ada Stephen Hawking yang masih hidup. Namun sekarang kegemaran orang pada ilmu pengetahuan berkurang. Orang kini lebih berfokus pada teknologi, kecanggihan gadget dan lain sebagainya yang bersifat ilmu terapan. Ketika daya serap orang pada teori ilmu pengetahuan berkurang, ini jadi celah yang bagus untuk lahirnya semangat konservatisme dan revitalisme baru. Mereka mengagungkan kejayaan masa lampau, tapi tak tahu menggunakan kejayaan itu untuk apa. (ade)    
 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Ekonomi 2020 Tak Janjikan Lebih Baik             Pertumbuhan 5,3 Persen Sulit Dicapai             Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh