BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Cendikiawan Muslim Nahdlatul Ulama (NU), Staf Ahli Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP), Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM Suryalaya Tasikmalaya
“Agama Palsu” Kaum Teroris

Terorisme itu sepenuhnya menunjukkan cara beragama yang keliru dan menyesatkan. Apa pun alasannya segala bentuk kekerasan baik simbolik ataupun fisik tidak bisa dibenarkan. Agama yang sahih sejatinya mengajarkan risalah kasih sayang, silaturahmi, gotong royong, empatik, kebersamaan dan perkawanan. Di luar itu adalah palsu, delusi dan waham. Biasanya "agama palsu" seperti ini seringkali dimanfaatkan untuk kepentingan politik karena kebelet pingin berkuasa di tengah masyarakat yang mabuk agama namun tuna literasi keagamaan. Kata sosiolog Ibnu Rusyd, tidak ada yang paling mudah "dimanfaatkan" untuk kepentingan apapun juga kecuali "agama". Politisasi identitas adalah jalan tol primitif untuk memburu tahta.

Negara, masyarakat sipil, ormas keagamaan garis moderat harus bahu membahu memastikan bahwa terorisme tidak mendapatkan tempat di bumi Nusantara yang multikultural. Terorisme semestinya menjadi musuh bersama, tidak boleh ada permakluman sedikit pun.

Setiap orang dan institusi keagamaan mengupayakan lebih masif, terstruktur, partisipatif dan sistematis lagi dalam memproduksi tafsir keagamaan yang lapang, toleran, inklusif dan terbuka. Pancasila yang berporos pada spirit Bhineka Tunggal Ika dengan segala etik imperatifnya harus memberikan kepastian bahwa keindonesiaan akan tetap tegak lurus dengan khitah diproklamasikannya. Pancasila yang menjadi laku dan pengalaman segenap warga. Optimisme hadirnya Indonesia  yang beradab tidak boleh bosan disuarakan. Jangan sampai kehilangan mimpi untuk sebuah kemajuan.

Sulit diterima akal sehat bahwa teror di Brimob dan Surabaya dilakukan secara amatiran. Para teroris tengah berkonsolidasi menebar ancaman dan ketakutan terhadap masyarakat. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)