BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Komunitas Sahabat Museum
Adakan Cerita Seru yang Tidak Selalu Mengacu pada Benda Koleksi

Koleksi museum-museum yang ada di Jakarta maupun luar Jakarta pada dasarnya menarik semua. Meski demikian, ada juga sejumlah museum yang walau koleksinya bagus dan unggulan, tapi terbilang berat. Misalnya di Museum Nasional, kalau kita perhatikan, di lantai tertentu tampak lengang dan sepi pengunjung meski koleksinya hebat-hebat. Label deskripsi yang menjelaskan item koleksi pun berkesan formal.

Hal itu sebetulnya bisa diatasi misalnya dengan menghadirkan pemandu museum, sejarawan, atau orang dari komunitas pecinta museum dan sejarah yang pandai menceritakan koleksi secara ceria, meriah, namun tetap informatif sehingga pengunjung akan terpikat dan museum jadi enak dikunjungi.

Selain dengan mengadakan tenaga ahli seperti itu, museum juga hendaknya memperhatikan aspek audio visualnya untuk barang yang dipamerkan. Museum, misalnya, bisa menyediakan semacamgoggle atau headphone yang memainkan suara atau gambar yang mendeskripsikan item koleksi. Saya pikir inovasi dan kreasi yang memancing interaksi dengan para pengunjung seperti itu dapat membuat khalayak berbondong-bondong datang ke museum.

Namun, dalam 10-15 tahun terakhir ini, saya melihat jumlah orang yang berkunjung ke museum mulai meningkat signifikan akibat adanya pemberitaan di media massa, ajakan dari teman atau keluarga, atau bahkan media sosial dan tren-tren yang viral. Ada sebagian orang yang memang benar-benar menikmati museum dan item-itemnya, ada juga yang ke museum hanya untuk berswafoto yang instagrammable. Walau begitu, kami sebagai komunitas Sahabat Museum melihatnya sebagai hal yang positif karena setidaknya orang sudah mulai berdatangan.

Terkait apakah sepinya museum seolah menunjukkan ketidakpedulian orang terhadap sejarah, saya melihatnya bukannya mereka tidak peduli, melainkan itu karena ada persepsi yang keliru mengenai museum. Dalam kurun waktu 10-20 tahun terakhir, atau bahkan mungkin sampai sekarang, banyak yang mengartikan kunjungan ke museum sebagai suatu kewajiban yang mengharuskan para pelajar, khususnya, mencatat segala informasi yang ada di museum.

Kalau hanya mencatat saja tentunya kunjungan tidak akan menyenangkan. Apalagi jika tidak ada pemandu atau sejarawan yang bisa menceritakan sejarah dengan menarik, maka kunjungan museum akan terasa flat.

Lalu, menyangkut lokasi museum dan pengaruhnya terhadap ramai atau sepinya pengunjung, saya pikir lokasi bukanlah suatu alasan mutlak atau pembenaran absolut yang membuat museum “garing”. Ada banyak hal yang bisa dikembangkan dan diungkapkan oleh pemandu atau sejarawan kepada para pengunjung—tak terkecuali fakta unik, cerita seru, atau anekdot mengenai lingkungan sekitar museum maupun bangunan museum itu sendiri yang dapat membuat kunjungan semakin berkesan.

Ambil contoh Museum M.H. Thamrin. Meski tidak bertempat di kawasan Kota Tua, namun bagi saya lokasinya termasuk menarik karena ada banyak hal yang bisa diceritakan mengenai lingkungan sekitarnya.

Museum tersebut dekat dengan stasiun kereta api yang sudah lama non-aktif yaitu Stasiun Salemba yang jarang diketahui banyak orang. Kalau kita menelusuri jalanan sampai ke Pasar Cikini, Jakarta Pusat, kita akan melewati jembatan kereta api dan pasar yang di bawahnya masih ada bantalan rel kereta api dan penduduk sekitar menyebutnya ampiun atau ampium, dari kata opium. Opium itu sendiri merupakan sejenis narkoba yang dilegalkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk dijual bebas.

Jadi, museum bisa mengembangkan cerita-cerita ringan seperti itu mengenai lingkungan sekelilingnya. Ceritanya tidak harus selalu merujuk pada benda koleksi museum. 

Kalaupun koleksinya tidak bisa didukung oleh teknologi yang mumpuni, maka pemandu museumnya bisa lebih dikembangkan agar bisa memberikan lebih banyak informasi unik seperti yang tadi saya sebutkan.

Di samping itu, saya pikir jika kegiatan pembelajaran sejarah diadakan di museum, pelajar bisa jadi lebih tertarik akan sejarah. Apalagi mereka rasanya seperti sedang piknik atau berekreasi karena mereka belajar di luar lingkup ruang kelas dan sekolah.

Terlepas dari apakah kegiatan seperti ini diadakan seminggu sekali, sebulan sekali, beberapa bulan sekali, atau bahkan setahun sekali, asalkan materi disampaikan dengan format yang menyenangkan dan membuat mereka gembira, saya pikir itu bisa diterapkan. (sfc)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung