BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
60 Tahun Pertamina Malih Rupa di Era Holding Migas

60 tahun lalu, tepatnya 10 Desember 1957, Ibnu Sutowo ditunjuk oleh Bung Karno untuk mengelola eks pertambangan migas Belanda di Sumatera Utara yang telantar, ditinggalkan oleh Belanda. Itulah cikal bakal dari Pertamina sekarang ini.

Ibnu Sutowo memimpin Pertamina melalui merger PT Perusahaan Minyak Nasional (Permina) yang didirikan 10 Desember 1957 tersebut dengan Permigan dan Permindo dalam Pertamina, yang kemudian ke depannya, membentuknya menjadi seolah merupakan "negara dalam negara" selama terjadi boom minyak sejak Perang Timur Tengah 1973 yang menaikkan harga minyak hingga belasan kali lipat.

Sayang bahwa kemudian rezeki minyak tersebut justru menghasilkan krisis dan skandal utang 10 miliar dolar AS, yang harus ditanggung Negara/Pemerintah.  Maka Ibnu Sutowo pun dipecat pada tahun 1976, setelah menjabat 19 tahun sebagai Direktur Utama Pertamina.

Sekarang usia Pertamina tepat 60 tahun dan Pemerintah membentuk holding sektoral yang akan diindukkan. Ya pelajaran dari krisis Pertamina 1974-1976 adalah bukti bahwa tidak ada lagi model negara dalam negara.

Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) mengusulkan pembentukan 4 super holding lintas sektoral yang masing masing holding itu mirip konglomerat yang memiliki mempunyai pelbagai perusahaan disegala bidang: mulai dari bank, asuransi, kontraktor, tambang, perkebunan, jasa, dan lain sebagainya. 120 perusahaan BUMN dibagi dalam 4 super Temasek yang masing-masing diisi 30 perusahaan, yang masing masing total assetnya Rp1500 triliun.

Nah, keempat super Temasek tersebut dipacu bersaing seperti Mitusi, Mitsubshi, Sumitomo, Marubeni, Itochu atau Samsung, Hyundai, LG, Posco dan lain sebagainya. Ini untuk mencegah monopoli yang diluar kontrol dan potensi korupsi yang bisa membuat bangkrut perusahaan seperti Pertamina pada zaman Ibnu Sutowo. 

BUMN diberi kekuatan, aset dan sumber dana. Kemudian di dorong supaya menjadi ujung tombak kekuatan Indonesia Inc. yang bisa bersaing dipasar global, dan menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Sehingga, nantinya BUMN menjadi perusahaan yang setara dengan global corporation. Bukan malah jadi "parasit" cengeng, yang terus menerus meminta subsidi dari pemerintah dengan berdalih sebagai pelayanan umum.

Semua harus dibandingkan secara empiris dengan sesama BUMN milik negara tetangga. Bagaimana mereka melakukan efisiensi pada perusahaannya dan pelayanan publiknya. BUMN kan bukan cuma fenomena Indonesia, diseluruh dunia juga ada termasuk di negara kapitalis.

Tapi di seluruh negara maju yang memiliki BUMN besar global corporation, selalu memperhitungkan dalam melakukan kebijakan dan aksi korporasi yang menggunakan ukuran pada keberhasilan delivery, public service. Dan kemudian at the end of the day profit dan surplus deviden. Bukan malah selalu mengeluh rugi, keluh kesah dan kalah bersaing karena inefisiensi dan korupsi.(afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF